LAPORAN PENDAHULUAN
DAN ASKEP PADA PASIEN DENGAN HIV
DOSEN : Ro’isah. S.KM.,S.Kep.,M.Kes
Disusun Oleh :
Yusuf Efendi (14201.09.17166)
Program Studi S-1 Ilmu Keperawatan
STIKes Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong
2019
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Konsep Dasar Medis
1. Definisi
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan
infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia
akibat infeksi virus HIV. Pengertian AIDS menurut beberapa ahli antara lain:
a. AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana mengalami
penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200 atau kurang )dan
memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges, 1999).
b. AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari
infeksi oleh HIV. (Sylvia, 2005)
HIV (Human Immunodeficiency Virus). Termasuk salah satu retrovirus yang secara
khusus menyerang sel darah putih (sel T). Retrovirus adalah virus ARN hewan yang
mempunyai tahap ADN. Virus tersebut mempunyai suatu enzim, yaitu enzim transkriptase
balik yang mengubah rantai tunggal ARN (sebagai cetakan) menjadi rantai ganda kopian
ADN (cADN). Selanjutnya, cADN bergabung dengan ADN inang mengikuti replikasi ADN
inang. Pada saat ADN inang mengalami replikasi, secara langsung ADN virus ikut
mengalami replikasi.
2. Etiologi
AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan
tubuh, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal.
Padahal, penyakit-penyakittersebut misalnya berbagai virus, cacing, jamur protozoa, dan
basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya
normal. Selain penyakit infeksi, penderita AIDS juga mudah terkena kanker. Dengan
demikian, gejala AIDS amat bervariasi.
Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno-deficiency
Virus). Dewasa ini dikenal juga dua tipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar infeksi
disebabkan HIV-1, sedangkan infeksi oleh HIV-2 didapatkan di Afrika Barat. Infeksi HIV-1
memberi gambaran klinis yang hampir sama. Hanya infeksi HIV-1 lebih mudah ditularkan
dan masa sejak mulai infeksi (masuknya virus ke tubuh) sampai timbulnya penyakit lebih
pendek.
Cara penularan AIDS ( Arif, 2000 )antara lain sebagai berikut :
a. Hubungan seksual, dengan risiko penularan 0,1-1% tiap hubungan seksual
b. Melalui darah, yaitu:
1) Transfusi darah yang mengandung HIV, risiko penularan 90-
2) Tertusuk jarum yang mengandung HIV, risiko penularan
3) Terpapar mukosa yang mengandung HIV,risiko penularan
4) Transmisi dari ibu ke anak :
a) Selama kehamilan
b) Saat persalinan, risiko penularan 50%
c) Melalui air susu ibu(ASI)14%
3. Klasifikasi
Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai
infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang
terinfeksi dengan HIV-1.Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005.
Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada
orang sehat.
a. Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS
b. Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran
pernapasan atas yang berulang
c. Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari
sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis.
d. Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus
atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS.
Sistem tahapan infeksi HIV AIDS menurut WHO
4. Patofsiologi
Setelah terinfeksi HIV, 50-70% penderita akan mengalami gejala yang disebut
sindrom HIV akut. Gejala ini serupa dengan gejala infeksi virus pada umumnya yaitu
berupa demam, sakitkepala, sakittenggorok, mialgia (pegal-pegal di badan), pembesaran
kelenjar dan rasa lemah. Pada sebagian orang, infeksi dapat berat disertai kesadaran
menurun. Sindrom ini biasanya akan menghilang dalam beberapa mingggu. Dalam waktu
3 – 6 bulan kemudian, tes serologi baru akan positif, karena telah terbentuk antibodi. Masa
3 – 6 bulan ini disebut window periode, di mana penderita dapat menularkan namun
secara laboratorium hasil tes HIV-nya masih negatif.
Setelah melalui infeksi primer, penderita akan masuk ke dalam masa tanpa gejala.
Pada masa ini virus terus berkembang biak secara progresif di kelenjar limfe. Masa ini
berlangsung cukup panjang, yaitu 5 10 tahun. Setelah masa ini pasien akan masuk ke fase
full blown AIDS. Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah
sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar
limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel
lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu
antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human
Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan
banyaknya kematian sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam
usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi.
Dengan menurunnya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara
progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T
penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap
tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini,
jumlah sel T4 dapatberkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai
sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi.
Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur
oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan
menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis
mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila
terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS
5. WOC
Virus HIV Immunocompromise
Menyerang T Limfosit,
sel saraf, makrofag,
monosit, limfosit BMerusak seluler
Flora normal patogen
Organ target
Manifestasi oral Respiratori
Invasi kuman patogen
Manifestasi saraf Gastrointestinal
Lesi mulut
Dermatologi
Nutrisiinadekuat
Sensori
Penyakit
anorektalHepatitisEnsepalopati akut Gangguan
penglihatan
dan
pendengaran
Disfungsi
biliari
Diare Gatal, sepsis,
nyeri
Infek
si
Kompleks
demensia
Cairanberkurang
Gangguanmobilisasi
Aktivitasintolerans
Gangguanrasanyaman:
nyeri
hipertermi
Cairanberkurang
Nutrisiinadekuat
Gangguanrasanyaman:
nyeri
GangguanpolaBAB
Tidakefektfibersihan
jalannapas
Tidakefektifpolnapas
Gangguanbodyimageapas
Gangguansensori
HIV- positif ?
Reaksi psikologis
6. Manifestasi Klinis
Klasifikasi klinis infeksi HIV pada orang dewasa menurut WHO
Stadium Gambaran Klinis Skala Aktivitas
I 1. Asimptomatik
2. Limfadenopati generalisata
Asimptomatik ,
aktifitas normal
II 1. Berat badan menurun < 10 %
2. Kelainan kulit dan mukosa yang
ringan seperti , dermatitis
seboroik, prurigo, onikomikosis
,ulkus oral yang rekuren ,kheilitis
angularis
3. Herpes zoster dalam 5 tahun
4. terakhir
5. Infeksi saluran napas bagian atas
seperti ,sinusitis bakterialis
Simptomatik ,
aktifitas
normal
III 1. Berat badan menurun < 10%
2. Diare kronis yang berlangsung
3. lebih dari 1 bulan
4. Demamberkepanjanganlebih dari
1 bulan
5. Kandidiasis orofaringeal
6. Oral hairy leukoplakia
7. TB paru dalam tahun terakhir
8. Infeksi bacterial yangberatseperti
pneumonia, piomiositis
Pada umumnya
lemah ,
aktivitas
ditempat tidur
kurang dari 50%
IV 1. HIV wasting syndrome seperti
yang didefinisikan oleh CDC
2. Pnemonia Pneumocystis carinii
3. Toksoplasmosis otak
Pada umumnya
sangat
lemah,aktivitas
4. Diare kriptosporidiosis lebih dari
1 bulan
5. Kriptokokosis ekstrapulmonal
6. Retinitis virus situmegalo
7. Herpes simpleks mukokutan >1
bulan
8. Leukoensefalopati multifocal
progresif
9. Mikosis diseminata seperti
histoplasmosis
10. Kandidiasisdi esophagus,trakea,
bronkus , dan paru
11. Mikobakterisosis atipikal
diseminata
12. Septisemia salmonelosis non
tifoid
13. Tuberkulosis diluar paru
14. Limfoma
15. Sarkoma Kaposi
16. Ensefalopati HIV
ditempat tidur
lebih
dari 5
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Tes laboratorium untuk menetapkan diagnosis infeksi HIV dapat
dibagi dalam dua kelompok yaitu tes yang mencari adanya virus tersebut
dalam tubuh penderita :
1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
a) ELISA
b) Western blot
c) P24 antigen test
d) Kultur HIV
2. Tes untuk deteksi gangguan system imun.
a) Hematokrit.
b) LED
c) CD4 limfosit
d) Rasio CD4/CD limfosit
e) Serum mikroglobulin B2
f) Hemoglobulin
8. Diagnostik
Pemeriksaan diagnostic untuk penderita AIDS (Arif Mansjoer, 2000)
adalah :
1) Lakukan anamnesi gejala infeksi oportunistik dan kanker yang terkait
dengan AIDS.
2) Telusuri perilaku berisiko yang memmungkinkan penularan.
3) Pemeriksaan fisik untuk mencari tanda infeksi oportunistik dan kanker
terkait. Jangan lupa perubahan kelenjar, pemeriksaan mulut, kulit, dan
funduskopi.
4) Dalam pemeriksaan penunjang dicari jumlah limfosot total, antibodi HIV,
dan pemeriksaan Rontgen.
9. Penatalaksanaan
a. Medis
Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya
yaitu (Endah Istiqomah : 2009) :
1) Pengendalian Infeksi Opurtunistik
Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi
opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi
yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi
penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan
perawatan kritis.
2) Terapi AZT (Azidotimidin)
Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif
terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik
traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya
<>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human
Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500
mm3
3) Terapi Antiviral Baru
Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun
dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi
virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah :
a) Didanosine
b) Ribavirin
c) Diedoxycytidine
d) Recombinant CD 4 dapat larut
4) Vaksin dan Rekonstruksi Virus
Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti
interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat
menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian
untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS.
b. Non Medis
Melakukan konseling yang bertujuan untuk :
1) Memberikan dukungan mental-psikologis
2) Membantu merekab untuk bisa mengubah perilaku yang tidak
berisiko tinggi menjadi perilaku yang tidak berisiko atau kurang
berisiko.
3) Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa
mempertahankan kondisi tubuh yang baik.
4) Membantu mereka untuk menemukan solusi permasalahan yang
berkaitan dengan penyakitnya, antara lain bagaimana
mengutarakan masalah-masalah pribadi dan sensitif kepada
keluarga dan orang terdekat.
10. Komplikasi
a. Oral Lesi
Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis,
peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi,
dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat
b. Neurologik
1) Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human
Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan
kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan
isolasi social
2) Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia,
ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek :
sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial
3) Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan
maranik endokarditis.
4) Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human
Immunodeficienci Virus (HIV)
c. Gastrointestinal
1) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal,
limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,
anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi.
2) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat
illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen,
ikterik,demam atritis.
3) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi
perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan
sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.
d. Respirasi
Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza,
pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk,
nyeri, hipoksia, keletihan,gagal nafas
e. Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena
xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,
gatal,rasa terbakar, infeksi skunder dan sepsis.
f. Sensorik
1. Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan
2. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan
pendengaran dengan efek nyeri.
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA HIV
A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Tn. T
Umur : 35 th
No Reg : 012 68651
Ruang : Mina
Agama : Islam
Pekerjaan : Supir
Alamat : Jln Sultan Agung Kelurahan Jogotrunan Kec
Lumajang
Suku Bangsa : Jawa / Indonesia
Pendidikan : SMU
MRS : 22 Maret 2019
Tanggal Pengkajian : 22 Maret 2019
DX Medis : AIDS
2. Keluhan Utama
Saat MRS : Klien dibawa ke rumah sakit dengan keluhan
diare dan demam tinggi.
Saat pengkajian : Klien mengatakan badan terasa lemah, dan
tidak mampu melakukan aktifitas.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak tanggal 20 Maret 2019 klien mengalami diare hebat sekitar 12-13x/hari,
tidak nafsu makan (anoreksia), dan kesulitan menelan (disfagia). Klien juga
mengalami demam sejak 22 Maret 2019 dan dibawa ke rumah sakit pada pukul
09.00 WIB. Pada saat pengkajian klien berkata-kata dengan suara yang lirih
seperti kelelahan dan mengeluhkan badan terasa lemah.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Dalam 3 bulan terakhir Tn. T sering mengalami diare tak terkontrol tanpa
merasakan sakit perut, penyebabnya tidak diketahui, dengan faktor yang
memperberat adalah bergerak sehingga usaha yang dilakukan adalah diam.
Klien juga demam tinggi sehingga dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan
perawatan. Dari riwayat 3 bulan terakhir Tn. T pernah 3-4 kali mengalami
demam dan 1 kali mengalami diare disertai darah. Klien juga mengatakan pada
masa mudanya pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
Dari riwayat penyakit keluarga, tidak didapatkan anggota keluarga yang
mengalami kelainan, penyakit kronis, ataupun penyakit yang sama dengan Tn.
T
6. Pola Kesehatan Sehari-hari Selama Di Rumah dan RS
a. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Di Rumah : makan 3x/hari, habis satu porsi dengan komposisi nasi
sayur dan telur terkadang tempe. Minum air putih 1000
cc/hari ditambah kopi tiap pagi.
Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien menunjukkan gejala anoreksia
dan kesulitan menelan, Makan 2x/hari tidak habis,
minum air putis 300cc/jam
b. Pola Eliminasi
1) Kebiasaan Devekasi Sehari-hari
Di Rumah : klien devekasi 12-13x/hari dengan konsistensi
cair, warna kuning kecoklatan. Pernah satu kali
devekasi disertai darah
Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien belum devikasi karena
pasien baru datang.
2) Kebiasaan Miksi
Di Rumah : Tn. T miksi 3-4x / hari (kira-kira 1500 cc) warna
kuning, bau khas, tidak ada kesulitan BAK, tidak
terdapat darah pada urin. Selama sakit BAK 3-
4x/ hari
Di Rumah Sakit : klien BAK tanpa alat bantu ataupun kateter.
c. Pola Tidur dan Istirahat
Dirumah Klien : istirahat (tidur) kira-kira 6 jam/hari mulai jam 22.00 WIB
sampai 05.00,
Di Rumah Sakit : klien tidur siang selama 40 menit
d. Pola Aktivitas
Di rumah : klien beraktifitas secara mandiri tanpa bantuan orang
lain dan tidak memiliki kebiasaan olah raga
Di rumah sakit : klien merasa mudah lelah, tidak kuat untuk mengankat
beban berat maupun sedang. Klien mendapat terapi
istirahat, beberapa aktifitasnya dibantu.
e. Pola Reproduksi dan Seksual
Klien Tn. T dengan usia 35 th memiliki 2 orang anak. Klien melakukan
seksual menggunakan kondom tapi tidak konsisten.
7. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : Lemah, terpasang infus RL,
Keadaan sakit : Klien sering mengeluh lemas
Tekanan darah : 90 / 80 mmHg
Nadi : 55 x/menit
Respirasi : 24 x/menit
Bising Usus : 20 x/menit
Suhu : 37,8˚C
Tinggi badan : 167 cm
Berat badan : 52 kg
b. Review ofSystem (ROS)
(1) Kepala : Posisi tegak, bentuk kepala simetris, warna rambut
hitam, distribusi rambut merata, tidak terlihat bayangan pembuluh darah,
tidak terdapat luka, tumor, edema, terlihat ada ketombe, dan bau.
 Mata ; tidak terdapat vesikel, tidak ada masa, nyeri tekan, dan
penurunan penglihatan, konjungtiva anemis.
 Hidung ; ada sekret, tidak ada lesi
 Mulut ; terdapat lesi, gigi ada yang tanggal, membran mukosa
kering, lidah ada bercak-bercak keputihan, dan halitosis.
 Telinga ; tidak ada nyeri tekan
(2) Leher : trakea simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
dan vena jugularis, tidak ada nyeri tekan.
(3) Thoraks : bentuk simetris, tidak terdapat masa,tidak ada otot
bantu napas
 Paru ; bentuk dada simetris, tidak terdapat retraksi interkosta,
ekspansi kanan dan kiri sama, perkusi paru didapat suara sonor di
seluruh lapang paru, batas paru hepar dan jantung redup,
 Jantung ; ictus cordis terlihat di mid-clavicula line sinistra ICS 5,
(4) Ketiak dan Payudara ; Tidak didapatkan pembesaran kelenjar limfe dan
tidak ada benjolan, puting dan areola baik
(5) Abdomen : bentuk simetris, ada nyeri tekan, tidak ada benjolan,
tidak ada tanda pembesaran hepar, tidak didapati asites, dan hasil
perkusi didapat suara timpani,
(6) Genetalia : Tn. T adalah klien laki-laki,
 Penis ; klien di sirkumsisi, gland penis terdapatbercak, pada batang
penis ada tanda jamur, tidak ada tanda herpes, ada lesi.
 Skrotum ; tidak ada lesi, tidak ada tanda jamur, tidak ada tanda
herpes
 Uretra ; tidak terdapat kelainan, tidak ada lesi
(7) Anus dan Rektum : tidak ada abses, ada hemoroid, rektum didapati
sedikit berlendir.
(8) Ekstremitas : kekuatan otot menurun, tidak terdapat oedema, tidak
ada fraktur, tidak tampak tanda atropi
(9) Integumen : warna sawo matang, tekstur kering, terdapat
kemerahan pada area, turgor buruk, terdapat tanda sianosis, akral dingin,
capillary refill time >3 detik, tidak ada tanda inflamasi pada kuku, ada lesi
pada kulit bagian area scapula
(10) Status Neurologis
a) Tingkat kesadaran : Kompos Mentis
b) Tanda–tanda perangsangan otak
1) Pusing
2) Suhu tubuh 37,8o C
c) Fungsi Motorik
Tidak ada gerakan yang tdak disadari klien, klien mampu bergerak
tanpa perintah.
d) Fungsi Sensorik
Klien tidak merasakan usapan kapas pada area maksilaris, dapat
merasakan benda tajam, tidak dapat merasakan hangat, panas,
dan dingin.
e) Refleks Pantologis
Reflek babinsky negatif, reflek cadlok negatif, reflek Gordon negatif.
8. Data Psikologis
(a) Status Emosi
Emosi klien stabil, klien aktif menjawab pertanyaan, tidak mudah
tersinggung, afek dan mimik muka sesuai keadaan.
(b) Kecemasan
Klien mengaku bahwa dirinya diduga dengan diagnosis AIDS, Klien
bertanya kepada perawat apakah benar dia sudah positif mengidap HIV?
serta menanyakan; “Apakah penyakit saya bisa disembuhkan?”? ekspresi
wajah klien tampak cemas dan gelisah.
(c) Pola Koping
Klien mengatakan bila mempunyai masalah klien hanya mengatasinya
sendiri kemudian bergaul dengan teman-teman dan untuk mengalihkan
masalahnya klien minum-minuman beralkohol sampai mabuk dan
melakukan hubungan sexual dengan PSK (Pekerja Sex Komersial).
(d) Gaya Komunikasi
Pada saat berkomunikasi klien cenderung diam, vokal jelas, menggunakan
bahasa Indonesia saat wawancara, sehari-hari klien menggunakan bahasa
Jawa dan bahasa Indonesia.
9. Konsep Diri
a) Gambaran diri
Klien mengatakan menyukai seluruh bagian tubuhnya, tetapi merasa malu
dan bingung karena sejak menderita sakit ini penis klien tidak dapat
ereksi.
b) Harga Diri
Klien mengatakan merasa bersalah atas perbuatannya selama ini dan
klien merasa malu dengan keadaan dirinya yang diduga mengidap HIV,
c) Peran Diri
Klien seorang pemuda sudah bekerja mengelola bengkel dan dapat
mencukupi kebutuhannya sehari-hari serta membiayai kuliah adiknya..
d) Identitas Diri
Klien mengaku dirinya sudah berkeluarga, pendiam, tidak gampang
marah.
e) Ideal Diri
Klien mengatakan dirinya ingin cepat sembuh dan kembali menjalankan
aktifitas di bengkel yang dikelolanya.
10. Data Sosial
Hubungan klien dengan keluarga serta saudaranya baik, klien ditunggu oleh
saudaranya yang perempuan. Klien dapat menjalin kerja sama dengan petugas
dan sesama pasien di ruang perawatan. Klien termasuk pribadi yang kooperatif.
11. Data Spiritual
Klien beragama Islam , klien percaya penyakitnya dapat di sembuhkan, klien
mengatakan datangnya ke RS merupakan salah satu usaha yang harus ia jalani
karena penyakitnya merupakan cobaan dari Allah. Klien mengatakan jarang
melakukan ibadah
12. Pemeriksaan Penunjang
a) Hasil Test Enzime Linked Sorbent Assay (ELISA) : dari hasil test ELISA yang
dilakukan, menunjukkan hasil bahwa Tn. T Positif dibuktikan dengan antibodi
dalam serum mengikat antigen virus murni di dalam enzyme-linked
antihuman globulin.
b) Hasil Test Western Blot : Positif
c) P24 Antigen Test : Positif
d) Kultur HIV : Positif, dengan kadar antigen P24
Meningkat
ANALISA DATA
Nama : Tn. T
Umur : 35 th
No Reg : 012 68651
Tanggal Kelompok Data Masalah Etiologi
22 Maret
2019
DS :
- Klien mengatakan pernah
mengkonsumsi obat
terlarang sehingga
dikucilkan oleh saudara-
saudaranya.
- Klien mengeluh susah
menelan ( disflagia)
DO :
- Mulut ; terdapat lesi, gigi
ada yang tanggal,
membran mukosa kering,
lidah ada bercak-bercak
keputihan, dan halitosis.
- Penis ; klien di sirkumsisi,
gland penis terdapat
bercak, pada batang penis
ada tanda jamur, tidak ada
tanda herpes, ada lesi.
- Saat dirumah klien
devekasi 12-13x/hari
dengan konsistensi cair,
warna kuning kecoklatan.
Pernah satu kali devekasi
disertai darah
Resiko Terhadap
Infeksi
Imunodefisiensi
22 Maret
2019
DS :
- Saat dirumah klien
devekasi 12-13x/hari
dengan konsistensi cair,
warna kuning kecoklatan.
Pernah satu kali devekasi
disertai darah
DO :
- integumen : warna sawo
matang, tekstur kering,
terdapat kemerahan pada
area, turgor buruk, terdapat
Kekurangan Volume
Cairan
Output yang
berlebih
tanda sianosis, akral dingin,
capillary refill time >3 detik,
tidak ada tanda inflamasi
pada kuku, ada lesi pada
- Penis : ada lesi pada
batang penis.
- TD : 90/80
22 Maret
2019
DS :
- Klien sering mengeluh
lemas
- Klien mengatakan tidak
nafsu makan (anoreksia)
- Klien mengeluh kesulitan
menelan (disfagia).
DO :
- Klien terlihat lemas
- klien merasa mudah lelah,
tidak kuat untuk
mengangkat beban berat
maupun sedang.
- Klien mendapat terapi
istirahat, beberapa
aktifitasnya dibantu.
- Pada saat pengkajian klien
berkata-kata dengan suara
yang lirih seperti kelelahan
dan mengeluhkan badan
terasa lemah.
Kelemahan Proses penyakit
yang
dimanifestasikan
oleh kekurangan
energi,
ketidakmampuan
mempertahankan
aktivitas sehari-hari.
22 Maret
2019
DS :
-
DO :
- Integumen : warna sawo
matang, tekstur kering,
terdapat kemerahan pada
area, turgor buruk, terdapat
tanda sianosis, akral dingin,
capillary refill time >3 detik,
tidak ada tanda inflamasi
pada kuku, ada lesi pada
kulit bagian area scapula.
- gland penis terdapatbercak
- Hipertermia (Suhu tubuh
37,8o C)
Gangguan Integritas
Kulit
Rash Dan Lesi Pada
Kulit
22 Maret
2019
DS :
- Klien mengatakan merasa
bersalah atas perbuatannya
selama ini
- Klien merasa malu dengan
keadaan dirinya yang
diduga mengidap HIV
DO :
- Pada saat berkomunikasi
klien cenderung diam
- Ekspresi wajah klien tampak
cemas dan gelisah
- Klien bertanya kepada
perawat apakah benar dia
sudah positif mengidap
HIV?
- Klien bertanya; “Apakah
penyakit saya bisa
disembuhkan?”
Persepsi tidak
diterima dalam
masyarakat
Isolasi sosial
B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko Terhadap Infeksi berhubungan dengan Imunodefisiensi
2. Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan Output Yang Berlebih
3. Kelemahan berhubungan dengan Proses Penyakit Yang Dimanifestasikan Oleh
Kekurangan Energi, Ketidakmampuan Mempertahankan Aktivitas Sehari-hari.
4. Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan Rash Dan Lesi Pada Kulit
5. Isolasi Sosial berhubungan dengan Persepsi Tidak Diterima Dalam Masyarakat
C. Intervensi Keperawatan
No Tanggal Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi
1 22 Maret
2019
Jam 15.00
Resiko Terhadap
Infeksi
berhubungan
dengan
Imunodefisiensi
Tujuan :
Pasien mencapaimasa
penyembuhan
luka/lesi dalam kururn
waktu 3 x 24 jam
KH :
1. Klien tidak
demam.
2. Bebas dari
pengeluaran/sekr
esi purulen dan
tanda-tanda lain
dari infeksi.
1. Instruksikan pasien / orang
terdekat mencuci tangan sesuai
indikasi
2. Berikan lingkungan yang bersih
dan berventilasi yang baik
3. Pantau keluhan nyeri ulu hati
disfagia, sakit retrosternal pada
waktu menelan dan diare hebat.
2 22 Maret
2019
Jam 15.00
Kekurangan
Volume Cairan
berhubungan
dengan Output
Yang Berlebih
Tujuan :
Mempertahankan
hidrasi dalam kurun
waktu 24 jam
KH :
1. Membran mukosa
lembab
2. Turgor kulit
membaik
3. Tanda-tanda vital
stabil
1. Pantau tanda - tanda vital
termasukCVPbila terpasang,catat
hipertensi termasuk perubahan
postural.
2. Hilangkan makanan yangpotensial
menyebabkan diare yakni pedas
atau berlemak tinggi, kacang,
kubis, susu.
3. Mencatat peningkatan suhu dan
durasi demam. Berikan kompres
hangat sesuai indikasi.
4. Kolaborasikan dengan dokter
dalam pemberikan antipiretik
sesuai indikasi
3 22 Maret
2019
Jam 15.00
Intoleransi
aktivitas
berhubungan
dengan Proses
Penyakit Yang
Dimanifestasikan
Oleh Kekurangan
Energi,
Ketidakmampuan
Mempertahankan
Aktivitas Sehari-
hari
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama … Pasien
bertoleransi terhadap
aktivitas dengan
Kriteria Hasil :
1. Berpartisipasi
dalam aktivitas
fisik tanpa disertai
peningkatan
tekanan darah,
nadi dan RR
2. Mampu
1. Observasi adanya pembatasan
klien dalam melakukan aktivitas
2. Kaji adanya faktor yang
menyebabkan kelelahan
3. Monitor nutrisi dan sumber energi
yang adekuat
4. Monitor pasien akan adanya
kelelahan fisik dan emosi secara
berlebihan
5. Monitor respon kardivaskuler
terhadap aktivitas (takikardi,
disritmia, sesak nafas, diaporesis,
pucat, perubahan hemodinamik)
melakukan
aktivitas sehari
hari (ADLs)
secara mandiri
3. Keseimbangan
aktivitas dan
istirahat
6. Monitor pola tidur dan lamanya
tidur/istirahat pasien
7. Kolaborasikan dengan Tenaga
Rehabilitasi Medik dalam
merencanakan progran terapi
yang tepat.
8. Bantu klien untuk mengidentifikasi
aktivitas yang mampu dilakukan
9. Bantu untuk memilih aktivitas
konsisten yang sesuai dengan
kemampuan fisik, psikologi dan
sosial
10. Bantu untuk mengidentifikasi dan
mendapatkan sumber yang
diperlukan untuk aktivitas yang
diinginkan
11. Bantu untuk mendpatkan alat
bantuan aktivitas seperti kursi
roda, krek
12. Bantu untuk mengidentifikasi
aktivitas yang disukai
13. Bantu klien untuk membuat jadwal
latihan diwaktu luang
14. Bantu pasien/keluarga untuk
mengidentifikasi kekurangan
dalam beraktivitas
15. Sediakan penguatan positif bagi
yang aktif beraktivitas
16. Bantu pasien untuk
mengembangkan motivasi diri dan
penguatan
17. Monitor respon fisik, emosi, sosial
dan spiritual
4 22 Maret
2019
Jam 15.00
Gangguan
Integritas Kulit
berhubungan
dengan Rash Dan
Lesi Pada Kulit
Tujuan
Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama …. kerusakan
integritas jaringan
pasien teratasi dengan
kriteria hasil:
 Perfusi jaringan
normal
 Tidak ada tanda-
tanda infeksi
 Ketebalan dan
1. Pressure ulcer prevention
2. Wound care
3. Anjurkan pasien untuk
menggunakan pakaian yang
longgar
4. Jaga kulit agar tetap bersih dan
kering
5. Mobilisasi pasien (ubah posisi
pasien) setiap dua jam sekali
6. Monitor kulit akan adanya
kemerahan
7. Oleskan lotion atau minyak/baby
tekstur jaringan
normal
 Menunjukkan
pemahaman
dalam proses
perbaikan kulit
dan mencegah
terjadinya cidera
berulang
 Menunjukkan
terjadinya proses
penyembuhan
luka
oil pada daerah yang tertekan
8. Monitor aktivitas dan mobilisasi
pasien
9. Monitor status nutrisi pasien
10. Memandikan pasien dengan
sabun dan air hangat
11. Kaji lingkungan dan peralatan
yang menyebabkan tekanan
12. Observasi luka : lokasi, dimensi,
kedalaman luka,
karakteristik,warna cairan,
granulasi, jaringan nekrotik,
tanda-tanda infeksi lokal, formasi
traktus
13. Ajarkan pada keluarga tentang
luka dan perawatan luka
14. Kolaborasi ahli gizi pemberian diet
TKTP, vitamin
15. Cegah kontaminasi feses dan urin
16. Lakukan tehnik perawatan luka
dengan steril
17. Berikan posisi yang mengurangi
tekanan pada luka
18. Hindari kerutan pada tempat tidur
5 22 Maret
2019
Jam 15.00
Isolasi sosial
berhubungan
dengan prsepsi
tidak diterima
dalam masyarakat
Tujuan :
Setelah dilakukan
intervensi keperawatan
selama tiga hari, klien
menunjukan
peningkatan perasaan
harga diri, dengan
kriteria :
 Klien dapat
berinteraksi aktif
dan terbuka
dengan petugas
 Klien tampak tidak
murung
 Klien mau
bersosialisasi
dengan
lingkungannya
1. Batasi/hindari penggunaan masker,
baju dan sarung tangan, jika
memungkinkan.
2. Tentukan persepsi klien tentang
situasi.
3. Berikan waktu untuk bicara dengan
klien selama dan diantara aktivitas
perawatan, tetap memberi dukungan,
perlakukan dengan penuh
penghargaan dan menghormati
perasaan klien
4. Dorong adanya hubungan yang aktif
dengan orang terdekat
5. Waspadai gejala-gejala
verbal/nonverbal, misal: menarik diri,
putus asa perasaan kesepian.
Tanyakan kepasien: apakah pernah
berfikir untuk bunuh diri ?
EVALUASI
No Tanggal Intervensi Implementasi Respon TTD
1 22 Maret
2019
Jam 15.00
1. Instruksikan
pasien / orang
terdekat
mencuci tangan
sesuai indikasi.
2. Berikan
lingkungan yang
bersih dan
berventilasi
yang baik.
3. Pantau keluhan
nyeri ulu hati
disfagia, sakit
retrosternal
pada waktu
menelan dan
diare hebat.
1. Mengajarkan kepada
keluarga untukmencuci
tangan sebelum dan
setelah kontak dengan
pasien
2. Monitor kondisi
ruangan dan ventilasi
3. Mengobservasi kondisi
pasien untuk
mengetahui adanya
keluhan nyeri ulu hati
disfagia, sakit
retrosternal pada
waktu menelan dan
diare hebat
1. Klien tidak
menunjukkan
tanda-tanda
demam.
2. Bebas dari
pengeluaran /
sekresi purulen
dan tanda-tanda
lain dari infeksi.
Yusuf
2 22 Maret
2019
Jam 15.00
1. Pantau tanda-
tanda vital
termasuk CVP
bila terpasang,
catat hipertensi
termasuk
perubahan
postural.
2. Hilangkan
makanan yang
potensial
menyebabkan
diare yaknipedas
atau berlemak
tinggi, kacang,
kubis, susu.
3. Mencatat
peningkatan
suhu dan durasi
demam. Berikan
kompres hangat
sesuai indikasi.
4. Kolaborasikan
dengan dokter
dalam
1. Monitor tanda-tanda
vital dan tekanan
darah.
2. Monitor jenis nutrisi
yang dikonsumsi oleh
pasien sesuai indikasi.
3. Observasi tanda-tanda
peningkatan suhu suhu
dan durasi demam.
Memberikan kompres
hangat sesuai indikasi.
4. Memberikan antipiretik
sesuai indikasi
1. Membran
mukosa lembab.
2. Turgor kulit
membaik.
3. Tanda-tanda vital
stabil
Yusuf
pemberikan
antipiretik sesuai
indikasi

More Related Content

PPTX
Diabetes Mellitus
PPTX
Hypertension
PPTX
Republic Act No. 11313 Safe Spaces Act (Bawal Bastos Law).pptx
PPTX
Power Point Presentation on Artificial Intelligence
PDF
Caça palavras - Bullying
PDF
Atividade ortográfica - Caçada aos erros
PPTX
Diabetes Mellitus
Hypertension
Republic Act No. 11313 Safe Spaces Act (Bawal Bastos Law).pptx
Power Point Presentation on Artificial Intelligence
Caça palavras - Bullying
Atividade ortográfica - Caçada aos erros

What's hot (20)

PPTX
Power point hiv aids
PDF
Materi HIV & AIDS
PPTX
Penyuluhan HIV/AIDS
PPT
Hiv aids
DOCX
Askep campak
DOCX
Syok hipovolemik
DOC
Lp bronkopneumonia
DOC
Form askep JIWA
PPTX
Hiv aids
DOCX
demam tifoid amee
DOCX
Makalah febris
DOCX
Pemeriksaan fisik
DOCX
Asuhan Keperawatan pada Anak Dengan Hipospadia
DOCX
Askep polio mielitis
PPTX
askep gangguan pola napas tidak efektif.pptx
PPTX
Paradigma keperawatan menurut imogene king
PPTX
Penyakit menular seksual
DOCX
Askep Demam Thypoid
PPTX
Sejarah dan peristiwa bersejarah epidemiologi
Power point hiv aids
Materi HIV & AIDS
Penyuluhan HIV/AIDS
Hiv aids
Askep campak
Syok hipovolemik
Lp bronkopneumonia
Form askep JIWA
Hiv aids
demam tifoid amee
Makalah febris
Pemeriksaan fisik
Asuhan Keperawatan pada Anak Dengan Hipospadia
Askep polio mielitis
askep gangguan pola napas tidak efektif.pptx
Paradigma keperawatan menurut imogene king
Penyakit menular seksual
Askep Demam Thypoid
Sejarah dan peristiwa bersejarah epidemiologi
Ad

Similar to Lp dan askep hiv (20)

DOCX
Laporan pendahuluan hiv
PPTX
PPT HIVBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBB
PPTX
ppt hiv.pptxnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
DOC
Hiv bumil
DOCX
DOCX
DOCX
Saad askep sistem imunitas hiv
DOCX
Tugas pa saad AKPER PEMKAB MUNA
DOCX
Saad askep sistem imunitas hiv AKPER PEMKAB MUNA
DOCX
Makalah asuhan hiv aids
PPTX
Konsep hiv
DOCX
ASKEP HIV AIDS KEL 9 (Riswan,Nina,Eka).docx
DOCX
ASKEP HIV AIDS KEL 9 (Riswan,Nina,Eka).docx
PPTX
Pwr hiv aids AKPER PEMKAB MUNA
DOC
Askep_AIDS_Pd_Anak_Klp_1[1].doc
PPTX
askephivkl1 (4).pptx
PDF
Hiv aids tropis i
PPT
Asuhan Keperawatan Imunodefisiensi
PPT
askep hiv dewasa.pptxcvbngcccccccccccccccc
DOCX
Makalah hiv aids
Laporan pendahuluan hiv
PPT HIVBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBBB
ppt hiv.pptxnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn
Hiv bumil
Saad askep sistem imunitas hiv
Tugas pa saad AKPER PEMKAB MUNA
Saad askep sistem imunitas hiv AKPER PEMKAB MUNA
Makalah asuhan hiv aids
Konsep hiv
ASKEP HIV AIDS KEL 9 (Riswan,Nina,Eka).docx
ASKEP HIV AIDS KEL 9 (Riswan,Nina,Eka).docx
Pwr hiv aids AKPER PEMKAB MUNA
Askep_AIDS_Pd_Anak_Klp_1[1].doc
askephivkl1 (4).pptx
Hiv aids tropis i
Asuhan Keperawatan Imunodefisiensi
askep hiv dewasa.pptxcvbngcccccccccccccccc
Makalah hiv aids
Ad

Recently uploaded (20)

PPTX
Laporan Kasus Diare_Puskesmas Purbalingga.pptx
PDF
Buku Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas dan Menyusui
PPTX
PPT Bab 1 Biologi Kelas XI Kur-Merdeka.pptx
PPTX
PRESENTASI TERKAIT ERGONOMI DIAREA BEKERJA
PDF
1. Rekap By Name Anak Skrining - Register Per Nama Anak SD.pdf
PDF
NOVEL TRILOGI PUSKESMAS. KARYA FERIZAL BAPAK SASTRA KESEHATAN INDONESIA
PPTX
05. MPI 5 - SURVEILANS CAMPAK RUBELLA.pptx
PDF
Rancangan Detail Menu BOK P2 Tahun 2026.pdf
PDF
NOVEL TRILOGI PUSKESMAS KARYA FERIZAL BAPAK SASTRA KESEHATAN INDONESIA
PPTX
PPT PKM LAMPER TENGAH NOVITA DAN PUTRI.pptx
PDF
PENGUATAN JEJARING LAYANAN TB DI RS - MALANG 21052024.pdf
PDF
Novel Dari Pencegahan Ilmiah Edward Jenner dan Louis Pasteur ke Pencegahan Be...
PDF
TEORI FONDASI IDEOLOGIS DAN NOVEL SEJARAH KESEHATAN ORDE BARU PRESIDEN SOEHAR...
PDF
Garis_Panduan_Kawalan_Infeksi_Di_Fasiliti_Kesihatan_Primer.pdf
PPTX
Paparan Penilaian Evaluasi Pelayanan Publik Tahun 2024
PPTX
CONTOH PPT UJIAN KOMPRE BAGI MAHASISWA S2 KESEHATAN
PDF
NOVEL INSPIRASI AI INDONESIA : Hippocrates, Pierre Fauchard, Ottawa Charter 1...
PDF
Novel Puskesmas Adalah Cinta. Karya Ferizal Bapak Sastra Kesehatan Indonesia
PDF
NOVEL INSPIRASI AI INDONESIA : Hippocrates, Pierre Fauchard, Ottawa Charter 1...
PDF
Novel Puskesmas Adalah Cinta. Karya Ferizal Bapak Sastra Kesehatan Indonesia
Laporan Kasus Diare_Puskesmas Purbalingga.pptx
Buku Asuhan Kebidanan pada Masa Nifas dan Menyusui
PPT Bab 1 Biologi Kelas XI Kur-Merdeka.pptx
PRESENTASI TERKAIT ERGONOMI DIAREA BEKERJA
1. Rekap By Name Anak Skrining - Register Per Nama Anak SD.pdf
NOVEL TRILOGI PUSKESMAS. KARYA FERIZAL BAPAK SASTRA KESEHATAN INDONESIA
05. MPI 5 - SURVEILANS CAMPAK RUBELLA.pptx
Rancangan Detail Menu BOK P2 Tahun 2026.pdf
NOVEL TRILOGI PUSKESMAS KARYA FERIZAL BAPAK SASTRA KESEHATAN INDONESIA
PPT PKM LAMPER TENGAH NOVITA DAN PUTRI.pptx
PENGUATAN JEJARING LAYANAN TB DI RS - MALANG 21052024.pdf
Novel Dari Pencegahan Ilmiah Edward Jenner dan Louis Pasteur ke Pencegahan Be...
TEORI FONDASI IDEOLOGIS DAN NOVEL SEJARAH KESEHATAN ORDE BARU PRESIDEN SOEHAR...
Garis_Panduan_Kawalan_Infeksi_Di_Fasiliti_Kesihatan_Primer.pdf
Paparan Penilaian Evaluasi Pelayanan Publik Tahun 2024
CONTOH PPT UJIAN KOMPRE BAGI MAHASISWA S2 KESEHATAN
NOVEL INSPIRASI AI INDONESIA : Hippocrates, Pierre Fauchard, Ottawa Charter 1...
Novel Puskesmas Adalah Cinta. Karya Ferizal Bapak Sastra Kesehatan Indonesia
NOVEL INSPIRASI AI INDONESIA : Hippocrates, Pierre Fauchard, Ottawa Charter 1...
Novel Puskesmas Adalah Cinta. Karya Ferizal Bapak Sastra Kesehatan Indonesia

Lp dan askep hiv

  • 1. LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASKEP PADA PASIEN DENGAN HIV DOSEN : Ro’isah. S.KM.,S.Kep.,M.Kes Disusun Oleh : Yusuf Efendi (14201.09.17166) Program Studi S-1 Ilmu Keperawatan STIKes Hafshawaty Pesantren Zainul Hasan Genggong 2019
  • 2. LAPORAN PENDAHULUAN A. Konsep Dasar Medis 1. Definisi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Pengertian AIDS menurut beberapa ahli antara lain: a. AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana mengalami penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200 atau kurang )dan memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges, 1999). b. AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi oleh HIV. (Sylvia, 2005) HIV (Human Immunodeficiency Virus). Termasuk salah satu retrovirus yang secara khusus menyerang sel darah putih (sel T). Retrovirus adalah virus ARN hewan yang mempunyai tahap ADN. Virus tersebut mempunyai suatu enzim, yaitu enzim transkriptase balik yang mengubah rantai tunggal ARN (sebagai cetakan) menjadi rantai ganda kopian ADN (cADN). Selanjutnya, cADN bergabung dengan ADN inang mengikuti replikasi ADN inang. Pada saat ADN inang mengalami replikasi, secara langsung ADN virus ikut mengalami replikasi. 2. Etiologi AIDS adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang merusak sistem kekebalan tubuh, sehingga tubuh mudah diserang penyakit-penyakit lain yang dapat berakibat fatal. Padahal, penyakit-penyakittersebut misalnya berbagai virus, cacing, jamur protozoa, dan basil tidak menyebabkan gangguan yang berarti pada orang yang sistem kekebalannya normal. Selain penyakit infeksi, penderita AIDS juga mudah terkena kanker. Dengan demikian, gejala AIDS amat bervariasi. Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus HIV (Human Immuno-deficiency Virus). Dewasa ini dikenal juga dua tipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar infeksi disebabkan HIV-1, sedangkan infeksi oleh HIV-2 didapatkan di Afrika Barat. Infeksi HIV-1 memberi gambaran klinis yang hampir sama. Hanya infeksi HIV-1 lebih mudah ditularkan
  • 3. dan masa sejak mulai infeksi (masuknya virus ke tubuh) sampai timbulnya penyakit lebih pendek. Cara penularan AIDS ( Arif, 2000 )antara lain sebagai berikut : a. Hubungan seksual, dengan risiko penularan 0,1-1% tiap hubungan seksual b. Melalui darah, yaitu: 1) Transfusi darah yang mengandung HIV, risiko penularan 90- 2) Tertusuk jarum yang mengandung HIV, risiko penularan 3) Terpapar mukosa yang mengandung HIV,risiko penularan 4) Transmisi dari ibu ke anak : a) Selama kehamilan b) Saat persalinan, risiko penularan 50% c) Melalui air susu ibu(ASI)14% 3. Klasifikasi Pada tahun 1990, World Health Organization (WHO) mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan sistem tahapan untuk pasien yang terinfeksi dengan HIV-1.Sistem ini diperbarui pada bulan September tahun 2005. Kebanyakan kondisi ini adalah infeksi oportunistik yang dengan mudah ditangani pada orang sehat. a. Stadium I: infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai AIDS b. Stadium II: termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluran pernapasan atas yang berulang c. Stadium III: termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberkulosis. d. Stadium IV: termasuk toksoplasmosis otak, kandidiasis esofagus, trakea, bronkus atau paru-paru, dan sarkoma kaposi. Semua penyakit ini adalah indikator AIDS. Sistem tahapan infeksi HIV AIDS menurut WHO
  • 4. 4. Patofsiologi Setelah terinfeksi HIV, 50-70% penderita akan mengalami gejala yang disebut sindrom HIV akut. Gejala ini serupa dengan gejala infeksi virus pada umumnya yaitu berupa demam, sakitkepala, sakittenggorok, mialgia (pegal-pegal di badan), pembesaran kelenjar dan rasa lemah. Pada sebagian orang, infeksi dapat berat disertai kesadaran menurun. Sindrom ini biasanya akan menghilang dalam beberapa mingggu. Dalam waktu 3 – 6 bulan kemudian, tes serologi baru akan positif, karena telah terbentuk antibodi. Masa 3 – 6 bulan ini disebut window periode, di mana penderita dapat menularkan namun secara laboratorium hasil tes HIV-nya masih negatif. Setelah melalui infeksi primer, penderita akan masuk ke dalam masa tanpa gejala. Pada masa ini virus terus berkembang biak secara progresif di kelenjar limfe. Masa ini berlangsung cukup panjang, yaitu 5 10 tahun. Setelah masa ini pasien akan masuk ke fase full blown AIDS. Sel T dan makrofag serta sel dendritik / langerhans ( sel imun ) adalah sel-sel yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) dan terkonsentrasi dikelenjar limfe, limpa dan sumsum tulang. Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lewat pengikatan dengan protein perifer CD 4, dengan bagian virus yang bersesuaian yaitu antigen grup 120. Pada saat sel T4 terinfeksi dan ikut dalam respon imun, maka Human Immunodeficiency Virus ( HIV ) menginfeksi sel lain dengan meningkatkan reproduksi dan banyaknya kematian sel T 4 yang juga dipengaruhi respon imun sel killer penjamu, dalam usaha mengeliminasi virus dan sel yang terinfeksi. Dengan menurunnya jumlah sel T4, maka system imun seluler makin lemah secara progresif. Diikuti berkurangnya fungsi sel B dan makrofag dan menurunnya fungsi sel T penolong. Seseorang yang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV ) dapat tetap tidak memperlihatkan gejala (asimptomatik) selama bertahun-tahun. Selama waktu ini, jumlah sel T4 dapatberkurang dari sekitar 1000 sel perml darah sebelum infeksi mencapai sekitar 200-300 per ml darah, 2-3 tahun setelah infeksi. Sewaktu sel T4 mencapai kadar ini, gejala-gejala infeksi ( herpes zoster dan jamur oportunistik ) muncul, Jumlah T4 kemudian menurun akibat timbulnya penyakit baru akan menyebabkan virus berproliferasi. Akhirnya terjadi infeksi yang parah. Seorang didiagnosis mengidap AIDS apabila jumlah sel T4 jatuh dibawah 200 sel per ml darah, atau apabila terjadi infeksi opurtunistik, kanker atau dimensia AIDS
  • 5. 5. WOC Virus HIV Immunocompromise Menyerang T Limfosit, sel saraf, makrofag, monosit, limfosit BMerusak seluler Flora normal patogen Organ target Manifestasi oral Respiratori Invasi kuman patogen Manifestasi saraf Gastrointestinal Lesi mulut Dermatologi Nutrisiinadekuat Sensori Penyakit anorektalHepatitisEnsepalopati akut Gangguan penglihatan dan pendengaran Disfungsi biliari Diare Gatal, sepsis, nyeri Infek si Kompleks demensia Cairanberkurang Gangguanmobilisasi Aktivitasintolerans Gangguanrasanyaman: nyeri hipertermi Cairanberkurang Nutrisiinadekuat Gangguanrasanyaman: nyeri GangguanpolaBAB Tidakefektfibersihan jalannapas Tidakefektifpolnapas Gangguanbodyimageapas Gangguansensori HIV- positif ? Reaksi psikologis
  • 6. 6. Manifestasi Klinis Klasifikasi klinis infeksi HIV pada orang dewasa menurut WHO Stadium Gambaran Klinis Skala Aktivitas I 1. Asimptomatik 2. Limfadenopati generalisata Asimptomatik , aktifitas normal II 1. Berat badan menurun < 10 % 2. Kelainan kulit dan mukosa yang ringan seperti , dermatitis seboroik, prurigo, onikomikosis ,ulkus oral yang rekuren ,kheilitis angularis 3. Herpes zoster dalam 5 tahun 4. terakhir 5. Infeksi saluran napas bagian atas seperti ,sinusitis bakterialis Simptomatik , aktifitas normal III 1. Berat badan menurun < 10% 2. Diare kronis yang berlangsung 3. lebih dari 1 bulan 4. Demamberkepanjanganlebih dari 1 bulan 5. Kandidiasis orofaringeal 6. Oral hairy leukoplakia 7. TB paru dalam tahun terakhir 8. Infeksi bacterial yangberatseperti pneumonia, piomiositis Pada umumnya lemah , aktivitas ditempat tidur kurang dari 50% IV 1. HIV wasting syndrome seperti yang didefinisikan oleh CDC 2. Pnemonia Pneumocystis carinii 3. Toksoplasmosis otak Pada umumnya sangat lemah,aktivitas
  • 7. 4. Diare kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan 5. Kriptokokosis ekstrapulmonal 6. Retinitis virus situmegalo 7. Herpes simpleks mukokutan >1 bulan 8. Leukoensefalopati multifocal progresif 9. Mikosis diseminata seperti histoplasmosis 10. Kandidiasisdi esophagus,trakea, bronkus , dan paru 11. Mikobakterisosis atipikal diseminata 12. Septisemia salmonelosis non tifoid 13. Tuberkulosis diluar paru 14. Limfoma 15. Sarkoma Kaposi 16. Ensefalopati HIV ditempat tidur lebih dari 5 7. Pemeriksaan Penunjang a. Laboratorium Tes laboratorium untuk menetapkan diagnosis infeksi HIV dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu tes yang mencari adanya virus tersebut dalam tubuh penderita : 1. Tes untuk diagnosa infeksi HIV : a) ELISA b) Western blot c) P24 antigen test d) Kultur HIV
  • 8. 2. Tes untuk deteksi gangguan system imun. a) Hematokrit. b) LED c) CD4 limfosit d) Rasio CD4/CD limfosit e) Serum mikroglobulin B2 f) Hemoglobulin 8. Diagnostik Pemeriksaan diagnostic untuk penderita AIDS (Arif Mansjoer, 2000) adalah : 1) Lakukan anamnesi gejala infeksi oportunistik dan kanker yang terkait dengan AIDS. 2) Telusuri perilaku berisiko yang memmungkinkan penularan. 3) Pemeriksaan fisik untuk mencari tanda infeksi oportunistik dan kanker terkait. Jangan lupa perubahan kelenjar, pemeriksaan mulut, kulit, dan funduskopi. 4) Dalam pemeriksaan penunjang dicari jumlah limfosot total, antibodi HIV, dan pemeriksaan Rontgen. 9. Penatalaksanaan a. Medis Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya yaitu (Endah Istiqomah : 2009) : 1) Pengendalian Infeksi Opurtunistik Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis.
  • 9. 2) Terapi AZT (Azidotimidin) Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3 3) Terapi Antiviral Baru Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah : a) Didanosine b) Ribavirin c) Diedoxycytidine d) Recombinant CD 4 dapat larut 4) Vaksin dan Rekonstruksi Virus Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS. b. Non Medis Melakukan konseling yang bertujuan untuk : 1) Memberikan dukungan mental-psikologis 2) Membantu merekab untuk bisa mengubah perilaku yang tidak berisiko tinggi menjadi perilaku yang tidak berisiko atau kurang berisiko. 3) Mengingatkan kembali tentang cara hidup sehat, sehingga bisa mempertahankan kondisi tubuh yang baik.
  • 10. 4) Membantu mereka untuk menemukan solusi permasalahan yang berkaitan dengan penyakitnya, antara lain bagaimana mengutarakan masalah-masalah pribadi dan sensitif kepada keluarga dan orang terdekat. 10. Komplikasi a. Oral Lesi Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat b. Neurologik 1) Kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social 2) Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial 3) Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis. 4) Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV) c. Gastrointestinal 1) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam, malabsorbsi, dan dehidrasi. 2) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
  • 11. 3) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare. d. Respirasi Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek, batuk, nyeri, hipoksia, keletihan,gagal nafas e. Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal,rasa terbakar, infeksi skunder dan sepsis. f. Sensorik 1. Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan 2. Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.
  • 12. ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA HIV A. Pengkajian 1. Identitas Klien Nama : Tn. T Umur : 35 th No Reg : 012 68651 Ruang : Mina Agama : Islam Pekerjaan : Supir Alamat : Jln Sultan Agung Kelurahan Jogotrunan Kec Lumajang Suku Bangsa : Jawa / Indonesia Pendidikan : SMU MRS : 22 Maret 2019 Tanggal Pengkajian : 22 Maret 2019 DX Medis : AIDS 2. Keluhan Utama Saat MRS : Klien dibawa ke rumah sakit dengan keluhan diare dan demam tinggi. Saat pengkajian : Klien mengatakan badan terasa lemah, dan tidak mampu melakukan aktifitas. 3. Riwayat Penyakit Sekarang Sejak tanggal 20 Maret 2019 klien mengalami diare hebat sekitar 12-13x/hari, tidak nafsu makan (anoreksia), dan kesulitan menelan (disfagia). Klien juga mengalami demam sejak 22 Maret 2019 dan dibawa ke rumah sakit pada pukul 09.00 WIB. Pada saat pengkajian klien berkata-kata dengan suara yang lirih seperti kelelahan dan mengeluhkan badan terasa lemah.
  • 13. 4. Riwayat Penyakit Dahulu Dalam 3 bulan terakhir Tn. T sering mengalami diare tak terkontrol tanpa merasakan sakit perut, penyebabnya tidak diketahui, dengan faktor yang memperberat adalah bergerak sehingga usaha yang dilakukan adalah diam. Klien juga demam tinggi sehingga dibawa ke puskesmas untuk mendapatkan perawatan. Dari riwayat 3 bulan terakhir Tn. T pernah 3-4 kali mengalami demam dan 1 kali mengalami diare disertai darah. Klien juga mengatakan pada masa mudanya pernah mengkonsumsi obat-obatan terlarang. 5. Riwayat Kesehatan Keluarga Dari riwayat penyakit keluarga, tidak didapatkan anggota keluarga yang mengalami kelainan, penyakit kronis, ataupun penyakit yang sama dengan Tn. T 6. Pola Kesehatan Sehari-hari Selama Di Rumah dan RS a. Pola Nutrisi dan Metabolisme Di Rumah : makan 3x/hari, habis satu porsi dengan komposisi nasi sayur dan telur terkadang tempe. Minum air putih 1000 cc/hari ditambah kopi tiap pagi. Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien menunjukkan gejala anoreksia dan kesulitan menelan, Makan 2x/hari tidak habis, minum air putis 300cc/jam b. Pola Eliminasi 1) Kebiasaan Devekasi Sehari-hari Di Rumah : klien devekasi 12-13x/hari dengan konsistensi cair, warna kuning kecoklatan. Pernah satu kali devekasi disertai darah Di Rumah Sakit : saat pengkajian klien belum devikasi karena pasien baru datang. 2) Kebiasaan Miksi
  • 14. Di Rumah : Tn. T miksi 3-4x / hari (kira-kira 1500 cc) warna kuning, bau khas, tidak ada kesulitan BAK, tidak terdapat darah pada urin. Selama sakit BAK 3- 4x/ hari Di Rumah Sakit : klien BAK tanpa alat bantu ataupun kateter. c. Pola Tidur dan Istirahat Dirumah Klien : istirahat (tidur) kira-kira 6 jam/hari mulai jam 22.00 WIB sampai 05.00, Di Rumah Sakit : klien tidur siang selama 40 menit d. Pola Aktivitas Di rumah : klien beraktifitas secara mandiri tanpa bantuan orang lain dan tidak memiliki kebiasaan olah raga Di rumah sakit : klien merasa mudah lelah, tidak kuat untuk mengankat beban berat maupun sedang. Klien mendapat terapi istirahat, beberapa aktifitasnya dibantu. e. Pola Reproduksi dan Seksual Klien Tn. T dengan usia 35 th memiliki 2 orang anak. Klien melakukan seksual menggunakan kondom tapi tidak konsisten. 7. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan umum : Lemah, terpasang infus RL, Keadaan sakit : Klien sering mengeluh lemas Tekanan darah : 90 / 80 mmHg Nadi : 55 x/menit Respirasi : 24 x/menit Bising Usus : 20 x/menit Suhu : 37,8˚C Tinggi badan : 167 cm Berat badan : 52 kg
  • 15. b. Review ofSystem (ROS) (1) Kepala : Posisi tegak, bentuk kepala simetris, warna rambut hitam, distribusi rambut merata, tidak terlihat bayangan pembuluh darah, tidak terdapat luka, tumor, edema, terlihat ada ketombe, dan bau.  Mata ; tidak terdapat vesikel, tidak ada masa, nyeri tekan, dan penurunan penglihatan, konjungtiva anemis.  Hidung ; ada sekret, tidak ada lesi  Mulut ; terdapat lesi, gigi ada yang tanggal, membran mukosa kering, lidah ada bercak-bercak keputihan, dan halitosis.  Telinga ; tidak ada nyeri tekan (2) Leher : trakea simetris, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan vena jugularis, tidak ada nyeri tekan. (3) Thoraks : bentuk simetris, tidak terdapat masa,tidak ada otot bantu napas  Paru ; bentuk dada simetris, tidak terdapat retraksi interkosta, ekspansi kanan dan kiri sama, perkusi paru didapat suara sonor di seluruh lapang paru, batas paru hepar dan jantung redup,  Jantung ; ictus cordis terlihat di mid-clavicula line sinistra ICS 5, (4) Ketiak dan Payudara ; Tidak didapatkan pembesaran kelenjar limfe dan tidak ada benjolan, puting dan areola baik (5) Abdomen : bentuk simetris, ada nyeri tekan, tidak ada benjolan, tidak ada tanda pembesaran hepar, tidak didapati asites, dan hasil perkusi didapat suara timpani, (6) Genetalia : Tn. T adalah klien laki-laki,  Penis ; klien di sirkumsisi, gland penis terdapatbercak, pada batang penis ada tanda jamur, tidak ada tanda herpes, ada lesi.  Skrotum ; tidak ada lesi, tidak ada tanda jamur, tidak ada tanda herpes  Uretra ; tidak terdapat kelainan, tidak ada lesi
  • 16. (7) Anus dan Rektum : tidak ada abses, ada hemoroid, rektum didapati sedikit berlendir. (8) Ekstremitas : kekuatan otot menurun, tidak terdapat oedema, tidak ada fraktur, tidak tampak tanda atropi (9) Integumen : warna sawo matang, tekstur kering, terdapat kemerahan pada area, turgor buruk, terdapat tanda sianosis, akral dingin, capillary refill time >3 detik, tidak ada tanda inflamasi pada kuku, ada lesi pada kulit bagian area scapula (10) Status Neurologis a) Tingkat kesadaran : Kompos Mentis b) Tanda–tanda perangsangan otak 1) Pusing 2) Suhu tubuh 37,8o C c) Fungsi Motorik Tidak ada gerakan yang tdak disadari klien, klien mampu bergerak tanpa perintah. d) Fungsi Sensorik Klien tidak merasakan usapan kapas pada area maksilaris, dapat merasakan benda tajam, tidak dapat merasakan hangat, panas, dan dingin. e) Refleks Pantologis Reflek babinsky negatif, reflek cadlok negatif, reflek Gordon negatif. 8. Data Psikologis (a) Status Emosi Emosi klien stabil, klien aktif menjawab pertanyaan, tidak mudah tersinggung, afek dan mimik muka sesuai keadaan. (b) Kecemasan Klien mengaku bahwa dirinya diduga dengan diagnosis AIDS, Klien bertanya kepada perawat apakah benar dia sudah positif mengidap HIV?
  • 17. serta menanyakan; “Apakah penyakit saya bisa disembuhkan?”? ekspresi wajah klien tampak cemas dan gelisah. (c) Pola Koping Klien mengatakan bila mempunyai masalah klien hanya mengatasinya sendiri kemudian bergaul dengan teman-teman dan untuk mengalihkan masalahnya klien minum-minuman beralkohol sampai mabuk dan melakukan hubungan sexual dengan PSK (Pekerja Sex Komersial). (d) Gaya Komunikasi Pada saat berkomunikasi klien cenderung diam, vokal jelas, menggunakan bahasa Indonesia saat wawancara, sehari-hari klien menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. 9. Konsep Diri a) Gambaran diri Klien mengatakan menyukai seluruh bagian tubuhnya, tetapi merasa malu dan bingung karena sejak menderita sakit ini penis klien tidak dapat ereksi. b) Harga Diri Klien mengatakan merasa bersalah atas perbuatannya selama ini dan klien merasa malu dengan keadaan dirinya yang diduga mengidap HIV, c) Peran Diri Klien seorang pemuda sudah bekerja mengelola bengkel dan dapat mencukupi kebutuhannya sehari-hari serta membiayai kuliah adiknya.. d) Identitas Diri Klien mengaku dirinya sudah berkeluarga, pendiam, tidak gampang marah. e) Ideal Diri Klien mengatakan dirinya ingin cepat sembuh dan kembali menjalankan aktifitas di bengkel yang dikelolanya.
  • 18. 10. Data Sosial Hubungan klien dengan keluarga serta saudaranya baik, klien ditunggu oleh saudaranya yang perempuan. Klien dapat menjalin kerja sama dengan petugas dan sesama pasien di ruang perawatan. Klien termasuk pribadi yang kooperatif. 11. Data Spiritual Klien beragama Islam , klien percaya penyakitnya dapat di sembuhkan, klien mengatakan datangnya ke RS merupakan salah satu usaha yang harus ia jalani karena penyakitnya merupakan cobaan dari Allah. Klien mengatakan jarang melakukan ibadah 12. Pemeriksaan Penunjang a) Hasil Test Enzime Linked Sorbent Assay (ELISA) : dari hasil test ELISA yang dilakukan, menunjukkan hasil bahwa Tn. T Positif dibuktikan dengan antibodi dalam serum mengikat antigen virus murni di dalam enzyme-linked antihuman globulin. b) Hasil Test Western Blot : Positif c) P24 Antigen Test : Positif d) Kultur HIV : Positif, dengan kadar antigen P24 Meningkat
  • 19. ANALISA DATA Nama : Tn. T Umur : 35 th No Reg : 012 68651 Tanggal Kelompok Data Masalah Etiologi 22 Maret 2019 DS : - Klien mengatakan pernah mengkonsumsi obat terlarang sehingga dikucilkan oleh saudara- saudaranya. - Klien mengeluh susah menelan ( disflagia) DO : - Mulut ; terdapat lesi, gigi ada yang tanggal, membran mukosa kering, lidah ada bercak-bercak keputihan, dan halitosis. - Penis ; klien di sirkumsisi, gland penis terdapat bercak, pada batang penis ada tanda jamur, tidak ada tanda herpes, ada lesi. - Saat dirumah klien devekasi 12-13x/hari dengan konsistensi cair, warna kuning kecoklatan. Pernah satu kali devekasi disertai darah Resiko Terhadap Infeksi Imunodefisiensi 22 Maret 2019 DS : - Saat dirumah klien devekasi 12-13x/hari dengan konsistensi cair, warna kuning kecoklatan. Pernah satu kali devekasi disertai darah DO : - integumen : warna sawo matang, tekstur kering, terdapat kemerahan pada area, turgor buruk, terdapat Kekurangan Volume Cairan Output yang berlebih
  • 20. tanda sianosis, akral dingin, capillary refill time >3 detik, tidak ada tanda inflamasi pada kuku, ada lesi pada - Penis : ada lesi pada batang penis. - TD : 90/80 22 Maret 2019 DS : - Klien sering mengeluh lemas - Klien mengatakan tidak nafsu makan (anoreksia) - Klien mengeluh kesulitan menelan (disfagia). DO : - Klien terlihat lemas - klien merasa mudah lelah, tidak kuat untuk mengangkat beban berat maupun sedang. - Klien mendapat terapi istirahat, beberapa aktifitasnya dibantu. - Pada saat pengkajian klien berkata-kata dengan suara yang lirih seperti kelelahan dan mengeluhkan badan terasa lemah. Kelemahan Proses penyakit yang dimanifestasikan oleh kekurangan energi, ketidakmampuan mempertahankan aktivitas sehari-hari. 22 Maret 2019 DS : - DO : - Integumen : warna sawo matang, tekstur kering, terdapat kemerahan pada area, turgor buruk, terdapat tanda sianosis, akral dingin, capillary refill time >3 detik, tidak ada tanda inflamasi pada kuku, ada lesi pada kulit bagian area scapula. - gland penis terdapatbercak - Hipertermia (Suhu tubuh 37,8o C) Gangguan Integritas Kulit Rash Dan Lesi Pada Kulit
  • 21. 22 Maret 2019 DS : - Klien mengatakan merasa bersalah atas perbuatannya selama ini - Klien merasa malu dengan keadaan dirinya yang diduga mengidap HIV DO : - Pada saat berkomunikasi klien cenderung diam - Ekspresi wajah klien tampak cemas dan gelisah - Klien bertanya kepada perawat apakah benar dia sudah positif mengidap HIV? - Klien bertanya; “Apakah penyakit saya bisa disembuhkan?” Persepsi tidak diterima dalam masyarakat Isolasi sosial B. Diagnosa Keperawatan 1. Resiko Terhadap Infeksi berhubungan dengan Imunodefisiensi 2. Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan Output Yang Berlebih 3. Kelemahan berhubungan dengan Proses Penyakit Yang Dimanifestasikan Oleh Kekurangan Energi, Ketidakmampuan Mempertahankan Aktivitas Sehari-hari. 4. Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan Rash Dan Lesi Pada Kulit 5. Isolasi Sosial berhubungan dengan Persepsi Tidak Diterima Dalam Masyarakat
  • 22. C. Intervensi Keperawatan No Tanggal Diagnosa Tujuan & Kriteria Hasil Intervensi 1 22 Maret 2019 Jam 15.00 Resiko Terhadap Infeksi berhubungan dengan Imunodefisiensi Tujuan : Pasien mencapaimasa penyembuhan luka/lesi dalam kururn waktu 3 x 24 jam KH : 1. Klien tidak demam. 2. Bebas dari pengeluaran/sekr esi purulen dan tanda-tanda lain dari infeksi. 1. Instruksikan pasien / orang terdekat mencuci tangan sesuai indikasi 2. Berikan lingkungan yang bersih dan berventilasi yang baik 3. Pantau keluhan nyeri ulu hati disfagia, sakit retrosternal pada waktu menelan dan diare hebat. 2 22 Maret 2019 Jam 15.00 Kekurangan Volume Cairan berhubungan dengan Output Yang Berlebih Tujuan : Mempertahankan hidrasi dalam kurun waktu 24 jam KH : 1. Membran mukosa lembab 2. Turgor kulit membaik 3. Tanda-tanda vital stabil 1. Pantau tanda - tanda vital termasukCVPbila terpasang,catat hipertensi termasuk perubahan postural. 2. Hilangkan makanan yangpotensial menyebabkan diare yakni pedas atau berlemak tinggi, kacang, kubis, susu. 3. Mencatat peningkatan suhu dan durasi demam. Berikan kompres hangat sesuai indikasi. 4. Kolaborasikan dengan dokter dalam pemberikan antipiretik sesuai indikasi 3 22 Maret 2019 Jam 15.00 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan Proses Penyakit Yang Dimanifestasikan Oleh Kekurangan Energi, Ketidakmampuan Mempertahankan Aktivitas Sehari- hari Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama … Pasien bertoleransi terhadap aktivitas dengan Kriteria Hasil : 1. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR 2. Mampu 1. Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas 2. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan 3. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat 4. Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan 5. Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi, disritmia, sesak nafas, diaporesis, pucat, perubahan hemodinamik)
  • 23. melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri 3. Keseimbangan aktivitas dan istirahat 6. Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien 7. Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan progran terapi yang tepat. 8. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan 9. Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan sosial 10. Bantu untuk mengidentifikasi dan mendapatkan sumber yang diperlukan untuk aktivitas yang diinginkan 11. Bantu untuk mendpatkan alat bantuan aktivitas seperti kursi roda, krek 12. Bantu untuk mengidentifikasi aktivitas yang disukai 13. Bantu klien untuk membuat jadwal latihan diwaktu luang 14. Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi kekurangan dalam beraktivitas 15. Sediakan penguatan positif bagi yang aktif beraktivitas 16. Bantu pasien untuk mengembangkan motivasi diri dan penguatan 17. Monitor respon fisik, emosi, sosial dan spiritual 4 22 Maret 2019 Jam 15.00 Gangguan Integritas Kulit berhubungan dengan Rash Dan Lesi Pada Kulit Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. kerusakan integritas jaringan pasien teratasi dengan kriteria hasil:  Perfusi jaringan normal  Tidak ada tanda- tanda infeksi  Ketebalan dan 1. Pressure ulcer prevention 2. Wound care 3. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar 4. Jaga kulit agar tetap bersih dan kering 5. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali 6. Monitor kulit akan adanya kemerahan 7. Oleskan lotion atau minyak/baby
  • 24. tekstur jaringan normal  Menunjukkan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cidera berulang  Menunjukkan terjadinya proses penyembuhan luka oil pada daerah yang tertekan 8. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien 9. Monitor status nutrisi pasien 10. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat 11. Kaji lingkungan dan peralatan yang menyebabkan tekanan 12. Observasi luka : lokasi, dimensi, kedalaman luka, karakteristik,warna cairan, granulasi, jaringan nekrotik, tanda-tanda infeksi lokal, formasi traktus 13. Ajarkan pada keluarga tentang luka dan perawatan luka 14. Kolaborasi ahli gizi pemberian diet TKTP, vitamin 15. Cegah kontaminasi feses dan urin 16. Lakukan tehnik perawatan luka dengan steril 17. Berikan posisi yang mengurangi tekanan pada luka 18. Hindari kerutan pada tempat tidur 5 22 Maret 2019 Jam 15.00 Isolasi sosial berhubungan dengan prsepsi tidak diterima dalam masyarakat Tujuan : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama tiga hari, klien menunjukan peningkatan perasaan harga diri, dengan kriteria :  Klien dapat berinteraksi aktif dan terbuka dengan petugas  Klien tampak tidak murung  Klien mau bersosialisasi dengan lingkungannya 1. Batasi/hindari penggunaan masker, baju dan sarung tangan, jika memungkinkan. 2. Tentukan persepsi klien tentang situasi. 3. Berikan waktu untuk bicara dengan klien selama dan diantara aktivitas perawatan, tetap memberi dukungan, perlakukan dengan penuh penghargaan dan menghormati perasaan klien 4. Dorong adanya hubungan yang aktif dengan orang terdekat 5. Waspadai gejala-gejala verbal/nonverbal, misal: menarik diri, putus asa perasaan kesepian. Tanyakan kepasien: apakah pernah berfikir untuk bunuh diri ?
  • 25. EVALUASI No Tanggal Intervensi Implementasi Respon TTD 1 22 Maret 2019 Jam 15.00 1. Instruksikan pasien / orang terdekat mencuci tangan sesuai indikasi. 2. Berikan lingkungan yang bersih dan berventilasi yang baik. 3. Pantau keluhan nyeri ulu hati disfagia, sakit retrosternal pada waktu menelan dan diare hebat. 1. Mengajarkan kepada keluarga untukmencuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan pasien 2. Monitor kondisi ruangan dan ventilasi 3. Mengobservasi kondisi pasien untuk mengetahui adanya keluhan nyeri ulu hati disfagia, sakit retrosternal pada waktu menelan dan diare hebat 1. Klien tidak menunjukkan tanda-tanda demam. 2. Bebas dari pengeluaran / sekresi purulen dan tanda-tanda lain dari infeksi. Yusuf 2 22 Maret 2019 Jam 15.00 1. Pantau tanda- tanda vital termasuk CVP bila terpasang, catat hipertensi termasuk perubahan postural. 2. Hilangkan makanan yang potensial menyebabkan diare yaknipedas atau berlemak tinggi, kacang, kubis, susu. 3. Mencatat peningkatan suhu dan durasi demam. Berikan kompres hangat sesuai indikasi. 4. Kolaborasikan dengan dokter dalam 1. Monitor tanda-tanda vital dan tekanan darah. 2. Monitor jenis nutrisi yang dikonsumsi oleh pasien sesuai indikasi. 3. Observasi tanda-tanda peningkatan suhu suhu dan durasi demam. Memberikan kompres hangat sesuai indikasi. 4. Memberikan antipiretik sesuai indikasi 1. Membran mukosa lembab. 2. Turgor kulit membaik. 3. Tanda-tanda vital stabil Yusuf