BAB I
                                                LANDASAN TEORITIS


A. Kosep Dasar
1.   Defenisi
              Acquired Immune Defiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang dapat
     disebabkan oleh Human Immuno Deficiency Virus (HIV). Virus dapat ditemukan dalam cairan tubuh
     terutama pada darah, cairan vagina, cairan sperma, cairan Air Susu Ibu. Virus tersebut merusak system
     kekebalan tubuh manusia dengan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga
     mudah terjangkit penyakit infeksi.
     (Pedoman Nasional Perawat, Dukungan Dan Pengobatan Bagi ODHA, Jakarta, 2003, hal 1)
              Human Immuno Deficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh
     manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang
     bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut T. Limfosit atau “sel
     T-4” atau disebut juga “sel CD – 4”.
     (100 Pertanyaan Seputar HIV / AIDS Yang Perlu Anda Ketahui, Medan, 2006, hal 1)




         2.     Etiologi



                      Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus
                (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada
                tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap
                sebagai virus kurang pathogen dibandingkan dengan HIV Maka untuk memudahkan keduanya
                disebut HIV. Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :


                A.   Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala.


                B. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.


                C. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
D. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, B
                   menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut.


             E. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan.
                   Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi
                   neurologist.
                   AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita. Yang
                   termasuk kelompok resiko tinggi adalah :


 Lelaki homoseksual atau biseks. 5. Bayi dari ibu/bapak
   terinfeksi.
 Orang yang ketagian obat intravena
 Partner seks dari penderita AIDS
 Penerima darah atau produk darah (transfusi).



        3.   Anatomi fisiologi

          HIV berbeda dalam struktur dengan retrovirus yang dijelaskan sebelumnya. Besarnya sekitar 120 nm dalam
   diameter (seper 120 milyar meter, kira-kira 60 kali lebih kecil dari sel darah merah) dan kasarnya "spherical"
4.   Patofisiologi
                                          HIV masuk ke dalam tubuh manusia
                                                               ↓
                                    Menginfeksi sel yang mempunyai molekul CO4
                               (Limfosit T4, Monosit, Sel dendrit, Sel Langerhans)
                                                               ↓
                                                 Mengikat molekul CO4
                                                               ↓
                                        Memiliki sel target dan memproduksi virus
                                                               ↓
                                                 Sel limfosit T4 hancur
                                                               ↓
                                                Imunitas tubuh menurun
                                                               ↓
                                                   Infeksi opurtinistik
                                                      ↓
                                                                                            ↓         ↓
                ↓               ↓
         Sist pernafasan Sist Pencernaan                           Sist. Integumen Sist Neurologis
                ↓                   ↓                                     ↓                 ↓
         Peradangan pd      Infeksi jamur        Peristaltik       Peradangan kulit     Infeksi ssp
          Jaringan paru             ↓                 ↓                   ↓
                ↓         Peradangan mulut Diare kronis              Timbul lesi/           ↓



                           Sesak, demam               ↓                   ↓            bercak putih Peningkatan
                ↓           Sulit menelan      Cairan output              ↓         kesadaran, kejang
           Tdk efektif          Mual                  ↓              Gatal, nyeri      Nyeri kepala
         Ggn pertukaran             ↓            Bibir kering          Bersisik             ↓
              gas           Intake kurang        Turgor kulit             ↓           MK: perubahan
             ↑ suhu                 ↓                 ↓             MK: Ggn rasa       proses pikir
                          MK: Ggn pemenu MK: kekurang                  nyaman
                             Han nutrisi        an vol cairan
                                               Ggn eliminasi
BAB, diare




5.   Manifestasi Klinis
     Menurut WHO:
1)   Gejala mayor
 Penurunan BB ≥ 10%
 Demam memanjang atau lebih dari 1 bulan
 Diare kronis
 Tuberkulosis


2)   Gejala minor
 Koordinasi orofaringeal
 Batuk menetap lebih dari 1 bulan
 Kelemahan tubuh
 Berkeringat malam
 Hilang nafsu makan
 Infeksi kulit generalisata
 Limfodenopati
 Herpes zoster
 Infeksi herpes simplek kronis
 Pneumonia
 Sarkoma kaposi


     Manifestasi klinis
 Angiomatosis
 Kandidiosis orofaringeal
 Kandidiasis vulvovaginal
 Displasisa leher rahim
 Herpes zoster
 Purpura idiopatik trombositopenik
 Kandidiasis esophagus


     Manifestasi Klinis
               Stadium                  Skala Aktivitas Gambaran Klinis
I         Asimptomatic, aktivitas normal
              a.   Asimptomatic
              b.   Limfodenopati generalisata
         II        Simptomatic, aktivitas normal
              a.   BB menurun < 10%
              b.   Kelainan kulit dan mukosa yang ringan seperti: dermatitis, pruigo,
                   ulkus oral, seboroik, onikomikosis yang rekuren dan kheilitis angularis
              c.   Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir
              d.   Infeksi saluran afas bagian atas seperti: sinusitis bakteriaslis
        III        Pada umumnya lemah, aktivitas di tempat tidur kurang dari 50%
              a.   BB > 10%
              b.   Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
              c.   Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
              d.   Kandidiasi orofaringeal
              e.   Oral hairy leukoplakia
              f.   TB Paru dalam tahun terakhir
              g.   Infeksi bacterial yang berat seperti: pneumonia dan piomiositish
        IV         Pada umumnya sangat lemah, aktivitas di tempat tidur lebih dari 50%
              a.   HIV wasting syndrome seperti: yang didefenisikan oleh CDC
              b.   Pneumonia pneumocytis carinii
              c.   Toksoplasmosis otak
              d.   Diare kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan
              e.   Retinitis virus sitomegalo
              f.   Kriptokokosis extra pulmonal
              g.   Herpes simplex mukokutan > 1 bulan
              h.   Leukoensepalopati multifokal progresif
              i.   Mikosis disminata seperti histoplasmosis
              j.   Kandidiasis disofags, trakea, bronkus dan paru
              k.   Mikobakteriasis atipikal diseminata
              l.   Septisemia salmonelosis nontifoid
              m. Tuberkulosis di luar paru
              n.   Limfoma
              o.   Sarkoma kaposi


6.   Pemeriksaan Diagnostik



     1.Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
-. ELISA
               -. Western blot
               -. P24 antigen test
               -. Kultur HIV
               2.Tes untuk deteksi gangguan system imun.
               -. Hematokrit.
               -. LED
               -. CD4 limfosit
               -. Rasio CD4/CD limfosit
               -. Serum mikroglobulin B2
               -. Hemoglobulin




7.   Komplikasi
     a. Oral Lesi

     Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human
     Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan
     cacat.

     b. Neurologik

     - kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel
     saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi
     social.

     - Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit,
     meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial.

     -. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis.

     - Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)

     c. Gastrointestinal

     - Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan
     efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi.

     - Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia,
     mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
- Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi,
     dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare.

     d. Respirasi

     Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides
     dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.

     e. Dermatologik

     Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi
     scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis.

     f. Sensorik

     - Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan

     - Pendengaran : otitis eksternal aku




7.   Penatalaksanaan
 Respon biologis / aspek fisik
a.   Universal precaution
1) Menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh
2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan
3) Dekontaminasi cairan tubuh pasien
4) Memakai alat kedokteran sekali pakai atau mensterilisasi semua alat kedokteran yang dipakai
5) Memelihara kebersihan tempat pelayanan kesehatan
6) Membuang limbah yang tercemar berbagai cairan tubuh secara benar dan aman


b.   Peran perawat dalam pemberian ARV
     Tujuan terapi ARV:
1) Menghentikan replikasi HIV
2) Memulihkan system imun dan mengurangi terjadinya infeksi opurtunistik
3) Memperbaiki kualitas hidup
4) Menurunkan morbiditas dan mortalitas karena infeksi HIV




c.   Pemberian nutrisi
     Pasien dengan HIV – AIDS harus mengkonsumsi suplemen atau nutrisi tambahan bertujuan untuk beban
     HIV – AIDS tidak bertambah akibat defisiensi vitamin dan mineral
d.   Aktivitas dan istirahat


 Respon adaptif psikologis
1)   Pikiran positif tentang dirinya
2)   Mengontrol diri sendiri
3)   Rasionalisasi
4)   Teknik perilaku


 Respon sosial
1)   Dukungan emosional
2)   Dukungan penghargaan
3)   Dukungan instrumental
4)   Dukungan informatif


 Respon spiritual
1)   Menguatkan harapan yang realistis kepada pasien terhadap kesembuhan
2)   Padai mengambil hikmah
3)   Kestabilan hati


 Resiko epidemiologis infeksi HIV sistomatik
1) Perilaku beresiko epidemiologis
                           i.   Hubungan seksual dengan mitra seksual resiko tinggi tanpa menggunakan kondom
                         ii.    Pecandu narkotik suntikan
                        iii.    Hubungan seksual yang tidak aman
1.   Memiliki banyak mitra seksual
2.   Mitra seksual yang diketahui pasien HIV / AIDS
3.   Mitra seksual di daerah dengan prevalensi HIV / AIDS yang tinggi
4.   Homoseksual
                  ii.     Pekerjaan dan pelanggan tempat hiburan seperti: panti pijat, diskotik, karaoke atau
     tempat prostitusi terselubung
                iii.    Mempunyai riwayat infeksi menular seksual (IMS)
                iv.     Riwayat menerima transfusi darah berulang
                 v.     Riwayat perlukaan kulit, tato, tindik atau sirkumsisi dengan alat yang tidak steril

More Related Content

PDF
Makalah kel. 4 hiv & aids
DOCX
Laporan pendahuluan hiv
DOCX
Makalah asuhan hiv aids
DOCX
Makalah hiv aids
DOCX
Makalah hiv aids
DOTX
Makalah lengkap tentang hiv aids
DOCX
Makalah hiv aids
PDF
Bahaya HIV / AIDS
Makalah kel. 4 hiv & aids
Laporan pendahuluan hiv
Makalah asuhan hiv aids
Makalah hiv aids
Makalah hiv aids
Makalah lengkap tentang hiv aids
Makalah hiv aids
Bahaya HIV / AIDS

What's hot (14)

DOCX
Makalah hiv aids...
PPTX
Definisi dan klasifikasi hiv
DOCX
Makalah tentang penyakit aids
PDF
Hiv aids kelas xi
PDF
HIV/AIDS dalm Kewarganegaraan
DOCX
Lp dan askep hiv
PPTX
KONSEP PENYAKIT Hiv aids
DOCX
Makalah hiv STIP WUNA
PDF
4. Chapter 2.pdf
PPT
Hiv aids
DOCX
DOCX
Saad askep sistem imunitas hiv AKPER PEMKAB MUNA
DOCX
Tugas pa saad AKPER PEMKAB MUNA
PDF
Whatis hivaids
Makalah hiv aids...
Definisi dan klasifikasi hiv
Makalah tentang penyakit aids
Hiv aids kelas xi
HIV/AIDS dalm Kewarganegaraan
Lp dan askep hiv
KONSEP PENYAKIT Hiv aids
Makalah hiv STIP WUNA
4. Chapter 2.pdf
Hiv aids
Saad askep sistem imunitas hiv AKPER PEMKAB MUNA
Tugas pa saad AKPER PEMKAB MUNA
Whatis hivaids
Ad

Similar to Makalah hiv (20)

PPTX
PPTX
Asuhan Keperawatan Wanita Hamil HIV-AIDS
DOC
20358065 tuberkulosis-paru
DOCX
Gejala infeksi hiv_2
PPT
askep hiv dewasa.pptxcvbngcccccccccccccccc
PPT
Asuhan Keperawatan Imunodefisiensi
PPTX
HIV Long-Term Survivors Day by Slidesgo (2).pptx
PPTX
KELAINAN PADA SISTEM IMMUNE
PPT
Beberapa penyakit infeksi dan cara penularannya
PPTX
Ppt imunodefisiensi
PDF
03 patologi manusia penyakit infeksi
PPTX
imunologi
DOCX
Aids merupakan singkatan dari aquired immune deficiency syndrome
DOCX
Sgd hiv aids
DOCX
DOC
Askep Tb paru,
DOCX
Aids merupakan singkatan dari aquired immune deficiency syndrome
PPT
Infeksi dan penyakit tropis
PDF
81071297 limfadenitis-tuberkulosis
Asuhan Keperawatan Wanita Hamil HIV-AIDS
20358065 tuberkulosis-paru
Gejala infeksi hiv_2
askep hiv dewasa.pptxcvbngcccccccccccccccc
Asuhan Keperawatan Imunodefisiensi
HIV Long-Term Survivors Day by Slidesgo (2).pptx
KELAINAN PADA SISTEM IMMUNE
Beberapa penyakit infeksi dan cara penularannya
Ppt imunodefisiensi
03 patologi manusia penyakit infeksi
imunologi
Aids merupakan singkatan dari aquired immune deficiency syndrome
Sgd hiv aids
Askep Tb paru,
Aids merupakan singkatan dari aquired immune deficiency syndrome
Infeksi dan penyakit tropis
81071297 limfadenitis-tuberkulosis
Ad

Makalah hiv

  • 1. BAB I LANDASAN TEORITIS A. Kosep Dasar 1. Defenisi Acquired Immune Defiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala penyakit yang dapat disebabkan oleh Human Immuno Deficiency Virus (HIV). Virus dapat ditemukan dalam cairan tubuh terutama pada darah, cairan vagina, cairan sperma, cairan Air Susu Ibu. Virus tersebut merusak system kekebalan tubuh manusia dengan mengakibatkan turunnya atau hilangnya daya tahan tubuh sehingga mudah terjangkit penyakit infeksi. (Pedoman Nasional Perawat, Dukungan Dan Pengobatan Bagi ODHA, Jakarta, 2003, hal 1) Human Immuno Deficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel darah putih yang bertugas menangkal infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk limfosit yang disebut T. Limfosit atau “sel T-4” atau disebut juga “sel CD – 4”. (100 Pertanyaan Seputar HIV / AIDS Yang Perlu Anda Ketahui, Medan, 2006, hal 1) 2. Etiologi Penyebab adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus (HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap sebagai virus kurang pathogen dibandingkan dengan HIV Maka untuk memudahkan keduanya disebut HIV. Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu : A. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada gejala. B. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness. C. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 atau lebih tahun dengan gejala tidak ada.
  • 2. D. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, B menurun, diare, neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut. E. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system tubuh, dan manifestasi neurologist. AIDS dapat menyerang semua golongan umur, termasuk bayi, pria maupun wanita. Yang termasuk kelompok resiko tinggi adalah :  Lelaki homoseksual atau biseks. 5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi.  Orang yang ketagian obat intravena  Partner seks dari penderita AIDS  Penerima darah atau produk darah (transfusi). 3. Anatomi fisiologi HIV berbeda dalam struktur dengan retrovirus yang dijelaskan sebelumnya. Besarnya sekitar 120 nm dalam diameter (seper 120 milyar meter, kira-kira 60 kali lebih kecil dari sel darah merah) dan kasarnya "spherical"
  • 3. 4. Patofisiologi HIV masuk ke dalam tubuh manusia ↓ Menginfeksi sel yang mempunyai molekul CO4 (Limfosit T4, Monosit, Sel dendrit, Sel Langerhans) ↓ Mengikat molekul CO4 ↓ Memiliki sel target dan memproduksi virus ↓ Sel limfosit T4 hancur ↓ Imunitas tubuh menurun ↓ Infeksi opurtinistik ↓ ↓ ↓ ↓ ↓ Sist pernafasan Sist Pencernaan Sist. Integumen Sist Neurologis ↓ ↓ ↓ ↓ Peradangan pd Infeksi jamur Peristaltik Peradangan kulit Infeksi ssp Jaringan paru ↓ ↓ ↓ ↓ Peradangan mulut Diare kronis Timbul lesi/ ↓ Sesak, demam ↓ ↓ bercak putih Peningkatan ↓ Sulit menelan Cairan output ↓ kesadaran, kejang Tdk efektif Mual ↓ Gatal, nyeri Nyeri kepala Ggn pertukaran ↓ Bibir kering Bersisik ↓ gas Intake kurang Turgor kulit ↓ MK: perubahan ↑ suhu ↓ ↓ MK: Ggn rasa proses pikir MK: Ggn pemenu MK: kekurang nyaman Han nutrisi an vol cairan Ggn eliminasi
  • 4. BAB, diare 5. Manifestasi Klinis Menurut WHO: 1) Gejala mayor  Penurunan BB ≥ 10%  Demam memanjang atau lebih dari 1 bulan  Diare kronis  Tuberkulosis 2) Gejala minor  Koordinasi orofaringeal  Batuk menetap lebih dari 1 bulan  Kelemahan tubuh  Berkeringat malam  Hilang nafsu makan  Infeksi kulit generalisata  Limfodenopati  Herpes zoster  Infeksi herpes simplek kronis  Pneumonia  Sarkoma kaposi Manifestasi klinis  Angiomatosis  Kandidiosis orofaringeal  Kandidiasis vulvovaginal  Displasisa leher rahim  Herpes zoster  Purpura idiopatik trombositopenik  Kandidiasis esophagus Manifestasi Klinis Stadium Skala Aktivitas Gambaran Klinis
  • 5. I Asimptomatic, aktivitas normal a. Asimptomatic b. Limfodenopati generalisata II Simptomatic, aktivitas normal a. BB menurun < 10% b. Kelainan kulit dan mukosa yang ringan seperti: dermatitis, pruigo, ulkus oral, seboroik, onikomikosis yang rekuren dan kheilitis angularis c. Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir d. Infeksi saluran afas bagian atas seperti: sinusitis bakteriaslis III Pada umumnya lemah, aktivitas di tempat tidur kurang dari 50% a. BB > 10% b. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan c. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan d. Kandidiasi orofaringeal e. Oral hairy leukoplakia f. TB Paru dalam tahun terakhir g. Infeksi bacterial yang berat seperti: pneumonia dan piomiositish IV Pada umumnya sangat lemah, aktivitas di tempat tidur lebih dari 50% a. HIV wasting syndrome seperti: yang didefenisikan oleh CDC b. Pneumonia pneumocytis carinii c. Toksoplasmosis otak d. Diare kriptosporidiosis lebih dari 1 bulan e. Retinitis virus sitomegalo f. Kriptokokosis extra pulmonal g. Herpes simplex mukokutan > 1 bulan h. Leukoensepalopati multifokal progresif i. Mikosis disminata seperti histoplasmosis j. Kandidiasis disofags, trakea, bronkus dan paru k. Mikobakteriasis atipikal diseminata l. Septisemia salmonelosis nontifoid m. Tuberkulosis di luar paru n. Limfoma o. Sarkoma kaposi 6. Pemeriksaan Diagnostik 1.Tes untuk diagnosa infeksi HIV :
  • 6. -. ELISA -. Western blot -. P24 antigen test -. Kultur HIV 2.Tes untuk deteksi gangguan system imun. -. Hematokrit. -. LED -. CD4 limfosit -. Rasio CD4/CD limfosit -. Serum mikroglobulin B2 -. Hemoglobulin 7. Komplikasi a. Oral Lesi Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat. b. Neurologik - kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social. - Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial. -. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis. - Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV) c. Gastrointestinal - Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi. - Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis.
  • 7. - Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan siare. d. Respirasi Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas. e. Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis. f. Sensorik - Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan - Pendengaran : otitis eksternal aku 7. Penatalaksanaan  Respon biologis / aspek fisik a. Universal precaution 1) Menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh 2) Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan 3) Dekontaminasi cairan tubuh pasien 4) Memakai alat kedokteran sekali pakai atau mensterilisasi semua alat kedokteran yang dipakai 5) Memelihara kebersihan tempat pelayanan kesehatan 6) Membuang limbah yang tercemar berbagai cairan tubuh secara benar dan aman b. Peran perawat dalam pemberian ARV Tujuan terapi ARV: 1) Menghentikan replikasi HIV 2) Memulihkan system imun dan mengurangi terjadinya infeksi opurtunistik 3) Memperbaiki kualitas hidup 4) Menurunkan morbiditas dan mortalitas karena infeksi HIV c. Pemberian nutrisi Pasien dengan HIV – AIDS harus mengkonsumsi suplemen atau nutrisi tambahan bertujuan untuk beban HIV – AIDS tidak bertambah akibat defisiensi vitamin dan mineral
  • 8. d. Aktivitas dan istirahat  Respon adaptif psikologis 1) Pikiran positif tentang dirinya 2) Mengontrol diri sendiri 3) Rasionalisasi 4) Teknik perilaku  Respon sosial 1) Dukungan emosional 2) Dukungan penghargaan 3) Dukungan instrumental 4) Dukungan informatif  Respon spiritual 1) Menguatkan harapan yang realistis kepada pasien terhadap kesembuhan 2) Padai mengambil hikmah 3) Kestabilan hati  Resiko epidemiologis infeksi HIV sistomatik 1) Perilaku beresiko epidemiologis i. Hubungan seksual dengan mitra seksual resiko tinggi tanpa menggunakan kondom ii. Pecandu narkotik suntikan iii. Hubungan seksual yang tidak aman 1. Memiliki banyak mitra seksual 2. Mitra seksual yang diketahui pasien HIV / AIDS 3. Mitra seksual di daerah dengan prevalensi HIV / AIDS yang tinggi 4. Homoseksual ii. Pekerjaan dan pelanggan tempat hiburan seperti: panti pijat, diskotik, karaoke atau tempat prostitusi terselubung iii. Mempunyai riwayat infeksi menular seksual (IMS) iv. Riwayat menerima transfusi darah berulang v. Riwayat perlukaan kulit, tato, tindik atau sirkumsisi dengan alat yang tidak steril