2. Pengaruh Diferensiasi Sosial dan Stratifikasi
Sosial
Diiferensiasi dan stratifikasi sosial memberikan pengaruh positif dapat mendorong
terjadinya integrasi sosial, sedangkan pengaruh negatifnya adalah terjadinya
disintegrasi sosial. Diferensiasi sosial dapat menimbulkan primordialisme,
etnosentrisme, politik aliran, dan terjadinya proses konsolidasi.
Primordialisme merupakan pandangan atau paham
yang menunjukkan sikap berpegang teguh pada hal-
hal yang sejak semula melekat pada diri individu,
seperti suku bangsa, ras, dan agama. Istilah
primordialisme berasal dari kata Bahasa Latin
“primus” yang artinya pertama dan “ordiri” yang
artinya tenunan atau ikatan. Primordial(isme) dapat
berarti ikatan-ikatan utama seseorang dalam
kehidupan sosial, dengan hal-hal yang dibawanya
sejak lahir seperti suku bangsa, ras, klan, asal usul
kedaerahan, dan agama.
Primordialisme
3. Primordialisme yang berlebihan juga
akan menghasilkan sebuah pandangan
subjektif yang disebut etnosentrisme
atau fanatisme suku bangsa.
Etnosentrisme adalah suatu sikap
menilai kebudayaan masyarakat lain
dengan menggunakan ukuran-ukuran
yang berlaku di masyarakatnya. Karena
yang dipakai adalah ukuran-ukuran
masyarakatnya, maka orang akan selalu
menganggap kebudayaannya memiliki
nilai lebih tinggi daripada kebudayaan
masyarakat lain.
Etnosentrisme
Politik Aliran
(Sektarian)
Politik aliran merupakan keadaan
dimana sebuah kelompok atau
organisasi tertentu dikelilingi oleh
sejumlah organisasi massa (ormas),
baik formal maupun informal. Tali
pengikat antara kelompok dan
organisasi-organisasi massa ini adalah
ideologi atau aliran (sekte) tertentu.
Contohnya, partai politik PKB yang
dikelilingi oleh ormas-ormas NU.
Konsolidasi
Berasal dari kata “consolidation” yang berarti penguatan atau pengukuhan.
Konsolidasi memiliki dua sisi, yaitu sisi ke dalam dan sisi keluar. Konsolidasi
dengan sisi kedalam akan memperkuat solidaritas kedalam suatu organisasi atau
himpunan. Sebaliknya, konsolidasi dengan sisi keluar dapat menimbulkan sikap
antipati dan kecurigaan terhadap organisasi lain.
4. Konflik Sosial
Kata “konflik” berasal dari bahasa Latin “configure” yang
artinya saling memukul. Dalam kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), konflik didefinisikan sebagai
percekcokkan, perselisihan, atau pertentangan. Secara
sederhana, konflik merujuk pada adanya dua hal atau lebih
yang berseberangan, tidak selaras, dan bertentangan.
Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses
sosial antara dua orang atau lebih (atau juga kelompok)
yang berusaha menyingkirkan pihak lain dengan cara
menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik lahir dari kenyataan akan adanya perbedaan-
perbedaan, misalnya perbedaan ciri badaniah, emosi,
kebudayaan, kebutuhan, kepentingan, atau pola-pola
perilaku antarindividu atau kelompok dalam masyarakat.
Faktor-Faktor Penyebab Konflik
Soerjono Soekanto mengemukakan empat
faktor yang dapat menyebabkan terjadinya
konflik dalam masyarakat, yakni perbedaan
antarindividu, perbedaan antarkebudayaan,
perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial
5. Bentuk-Bentuk Konflik
Lewis A. Coser
• Konflik realistis berasal dari kekecewaan
individu atau kelompok terhadap sistem
dan tuntutan-tuntutan yang terdapat dalam
hubungan sosial.
• Konflik nonrealistis adalah konflik yang
bukan berasal dari tujuan-tujuan
persaingan yang antagonistis
(berlawanan), melainkan dari kebutuhan
pihak-pihak tertentu untuk meredakan
ketegangan.
Soerjono Soekanto
• Konflik pribadi
• Konflik rasial
• Konflik antara kelas-kelas sosial
• Konflik politik
• Konflik internasional
6. Ursula Lehr
• Konflik dengan orang tua sendiri
• Konflik dengan anak-anak sendiri
• Konflik dengan keluarga
• Konflik dengan orang lain
• Konflik dengan suami istri
• Konflik di sekolah
• Konflik dalam pemilihan pekerjaan
• Konflik agama
• Konflik pribadi
7. Dampak Sebuah Konflik
• Memperjelas aspek-aspek kehidupan yang belum jelas.
• Memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma-norma, nilai-nilai, serta hubungan-
hubungan sosial.
• Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in-group solidarity).
• Merupakan jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok
• Dapat membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-
norma baru
• Dapat berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan antara kekuatan-kekuatan
yang ada dalam masyarakat
• Konflik memunculkan sebuah kompromi baru.
Positif
8. • Keretakan hubungan antarindividu
dan persatuan kelompok
• Kerusakan harta benda dan jatuhnya
korban manusia
• Berubahnya sikap kepribadian para
individu, baik yang mengarah pada
hal-hal positif atau negatif
• Munculnya dominasi kelompok
pemenang atas kelompok yang kalah
Negatif
9. Kekerasan adalah bentuk lanjutan dari konflik sosial. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekerasan
didefinisikan sebagai perbuatan seseorang atau kelompok
yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau
menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari, kekerasan identik dengan
tindakan melukai orang lain dengan sengaja, membunuh, atau
memperkosa. Kekerasan seperti itu sering disebut sebagai
kekerasan langsung (direct violence). Kekerasan juga
menyangkut tindakan-tindakan seperti mengekang,
mengurangi atau meniadakan hak seseorang, mengintimidasi,
memfitnah, dan menteror orang lain. Jenis kekerasan yang
terakhir disebut kekerasan tidak langsung (indirect violence)
Kekerasan
10. Teori-Teori tentang
Kekerasan
Agresivitas perilaku seseorang dapat
menyebabkan timbulnya kekerasan.
Faktor penyebab perilaku kekerasan
adalah faktor pribadi dan faktor sosial.
Faktor pribadi meliputi kelainan jiwa,
seperti psikopat, psikoneurosis, frustasi
kronis, serta pengaruh obat bius. Faktor
yang bersifat sosial, antara lain konflik
rumah tangga, faktor budaya, dan media
massa.
Teori Faktor
Individual
Teori Faktor
Kelompok
Terjadi karena benturan identitas kelompok
yang berbeda. Contohnya konflik
antarsupoter bola
Teori Dinamika
Kelompok
Kekerasan yang timbul karena adanya
deprivasi relative (kehilangan rasa memiliki)
yang terjadi dalam kelompok atau
masyarakat. Artinya, perubahan-perubahan
sosial yang terjadi demikian cepat dalam
sebuah masyarakat dan tidak mampu
ditanggapi dengan seimbang oleh sistem
sosial dan nilai masyarakatnya.
11. Cara Pengendalian Konflik dan
Kekerasan
Konflik merupakan gejala sosial yang senantiasa melekat dalam
kehidupan setiap masyarakat. Sebagai gejala sosial, konflik hanya akan
hilang bersama hilangnya masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, yang
dapat kita lakukan adalah mengendalikan agar konflik tersebut tidak
berkembang menjadi kekerasan (violence).
Secara umum, ada tiga macam bentuk pengendalian konflik sosial:
1. Konsiliasi
Bentuk pengendalian konflik yang
dilakukan melalui lembaga-
lembaga tertentu yang
memungkinkan diskusi dan
pengambilan keputusan yang adil
di antara pihak-pihak yang bertikai.
12. Pengendalian konflik dengan cara
mediasi dilakukan apabila kedua pihak
yang berkonflik sepakat untuk menunjuk
pihak ketiga sebagai mediator. Pihak
ketiga ini akan memberikan pemikiran
atau nasihat-nasihatnya tentang cara
terbaik dalam menyelesaikan
pertentangan mereka.
Arbitrasi atau perwasitan umumnya
dilakukan apabila kedua belah pihak
yang berkonflik sepakat untuk menerima
atau terpaksa menerima hadirnya pihak
ketiga yang akan memberikan keputusan
tertentu untuk menyelesaikan konflik.
2. Mediasi
3. Arbitrasi
13. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan
bahwa integrasi adalah pembauran sesuatu yang tertentu
hingga menjadi kesatuan yang utuh dan bulat. Istilah
pembauran tersebut mengandung arti masuk ke dalam,
menyesuaikan, menyatu, atau melebur sehingga menjadi
seperti satu. Dengan demikian, integrasi merujuk pada
masuk, menyesuaikan, atau meleburnya dua atau lebih hal
yang berbeda sehingga menjadi seperti satu. Dari uraian
tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa integrasi sosial
adalah proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda
dalam masyarakat sehingga menjadi satu kesatuan. Unsur-
unsur yang berbeda tersebut dapat meliputi perbedaan
kedudukan sosial, ras, etnik, agama, bahasa, kebisaaan,
sistem nilai, dan norma.
Integrasi Sosial
14. Syarat terwujudnya integrasi sosial
Menurut William F. Ogburn dan
Mayer Nimkof
• Homogenitas kelompok
• Besar kecilnya kelompok
• Mobilitas geografis
• Efektivitas komunikasi
Faktor yang Mempengaruhi Cepat
lambatnya proses integrasi sosial
• Anggota-anggota masyarakat merasa
berhasil saling mengisi kebutuhan-
kebutuhan di antara mereka.
• Masyarakat berhasil menciptakan
kesepakatan (consensus) bersama
mengenai norma dan nilai-nilai sosial yang
dilestarikan dan dijadikan pedoman
• Norma-norma dan nilai sosial itu berlaku
cukup lama, tidak mudah berubah, dan
dijadikan secara konsisten oleh seluruh
anggota masyarakat.
15. Bentuk-Bentuk Integrasi
Sosial
Integrasi normative dapat diartikan
sebagai bentuk integrasi yang terjadi
akibat adanya norma-norma yang
berlaku di masyarakat. Dalam hal ini,
norma merupakan hal yang mampu
mempersatukan masyarakat.
1. Integrasi
Normatif
2. Integrasi
Fungsional
Integrasi fungsional terbentuk karena ada
fungsi-fungsi tertentu dalam masyarakat.
Sebuah integrasi dapat terbentuk dengan
mengedepankan fungsi dari masing-
masing pihak yang ada dalam sebuah
masyarakat.
3. Integrasi
koersif
Integrasi koersif terbentuk berdasarkan
kekuasaan yang dimiliki penguasa.
Dalam hal ini penguasa menerapkan
cara-cara koersif (kekerasan).
16. Proses integrasi
Asimilasi merupakan suatu proses sosial
yang ditandai dengan adanya usaha-
usaha untuk mengurangi perbedaan-
perbedaan yang ada di antara individu
atau kelompok dalam masyarakat.
Asimilasi ditandai dengan
pengembangan sikap-sikap yang sama,
walau terkadang bersifat emosional,
dengan tujuan mencapai kesatuan
(integrasi)
1. Asimilasi 2. Akulturasi
Menurut Koentjaraningrat, akulturasi
adalah proses sosial yang terjadi bila
kelompok sosial dengan kebudayaan
tertentu dihadapkan pada kebudayaan
asing yang berbeda. Proses sosial itu akan
berlangsung hingga unsur kebudayaan
asing itu diterima masyarakat dan diolah
ke dalam kebudayaan sendiri. Namun
umumnya akulturasi berlangsung tanpa
menghilangkan kepribadian kebudayaan
itu sendiri.
17. Faktor-Faktor
Pendorong
Integrasi Sosial
• Toleransi terhadap perbedaan
• Kesempatan yang seimbang dalam bidang
ekonomi
• Sikap saling menghargai orang lain
• Sikap terbuka dari golongan yang berkuasa
dalam masyarakat
• Persamaan dalam unsur-unsur kebudayaan
• Perkawinan campuran (amalgamation)
• Adanya musuh bersama dari luar
Dalam proses asimilasi,
integrasi sosial dapat
dicapai karena adanya
faktor-faktor
18. Sumber Pustaka
Muin, Idianto. 2006. Sosiologi
SMA/MA untuk Kelas XI.
Erlangga. Jakarta
Maryati, Kun dan Juju Suryawati.
2012. Sosiologi untuk SMA/MA
Kelas XI. Esis Erlangga. Jakarta