1950 - 1959
Masa
Demokrasi
Liberal
2
Nama Anggota Kelompok
1Alenna Layla R
(02/IXF)
2Audrey Zhafira S
(07/IXF)
3Salsabila Khoirun
N (28/IXF)
3
Secara umum, demokrasi liberal adalah salah
satu bentuk sistem pemerintahan yang berkiblat
pada demokrasi. Demokrasi liberal berarti
demokrasi yang liberal. Liberal disini dalam
artian perwakilan atau representatif.
Setelah dibubarkannya RIS, sejak tahun 1950 RI melaksanakan
demokrasi parlementer-liberal dengan mencontoh sistem parlementer
barat dan masa ini disebut Masa Demokrasi Liberal. Indonesia sendiri
pada tahun 1950an terbagi menjadi 10 Provinsi yang mempunyai
otonomi berdasarkan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 (UUDS
1950) yang juga bernafaskan liberal.
Demokrasi Liberal
4
Pelaksanaan
Pemerintahan
Tahun 1950-1959 merupakan masa memanasnya partai-partai politik
pada pemerintahan Indonesia. Pada masa ini terjadi pergantian kabinet,
partai-partai politik terkuat mengambil alih kekuasaan. PNI dan Masyumi
merupakan partai yang terkuat dalam DPR (Parlemen). Dalam waktu lima
tahun (1950 -1955) PNI dan Masyumi secara bergantian memegang
hegemoni poltik dalam empat kabinet yang pernah berlaku. Adapun
susunan kabinetnya sebagai berikut;
5
Kabinet Natsir
(6 September 1950 - 21 Maret 1951)
Kabiet ini dilantik pada tanggal 7 September 1950 dengan Mohammad Natsir dari Partai Masyumi sebagai perdana menteri. Kabinet Natsir
merupakan koalisi yang dipimpin oleh partai Masyumi bersama dengan PNI. Kabinet ini memiliki struktur yang terdiri dari tokoh – tokoh
terkenal duduk di dalamnya, seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Mr.Asaat, Ir.Djuanda, dan Prof Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo.
6
Program pokok dari Kabinet Natsir
1 Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman
2
Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan
pemerintahan.
3 Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang.
4 Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat.
5 Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat.
7
Bidang ekonomi
Dalam bidang ekonomi kabinet ini memperkenalkan sistem ekonomi Gerakan Benteng yang direncanakan
oleh Menteri Ekonomi, Sumitro Djojohadikusumo. Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi
kolonial menjadi struktur ekonomi nasional (pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya adalah:
1. Menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia.
2. Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam
pembangunan ekonomi nasional.
3. Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan kredit.
4. Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.
8
Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir dan
Program Gerakan Benteng dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3
tahun (1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan bangsa Indonesia
menerima bantuan kredit dari program ini.
Tujuan program ini sendiri tidak dapat tercapai dengan baik meskipun
anggaran yang digelontorkan pemerintah cukup besar. Kegagalan
program ini disebabkan karena :
1. Para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non
pribumi dalam kerangka sistem ekonomi liberal.
2. Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas yang cenderung
konsumtif.
3. Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada pemerintah.
4. Para pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya.
5. Para pengusaha ingin cepat mendapatkan keuntungan besar dan
menikmati cara hidup mewah.
6. Para pengusaha menyalahgunakan kebijakan dengan mencari
keuntungan secara cepat dari kredit yang mereka peroleh.
Kabinet Natsir sendiri kemudian
berakhir disebabkan oleh adanya
mosi tidak percaya dari PNI di
Parlemen Indonesia menyangkut
pencabutan Peraturan Pemerintah
mengenai DPRD dan DPRDS. PNI
menganggap peraturan pemerintah
No. 39 th 1950 mengenai DPRD
terlalu menguntungkan Masyumi.
Mosi tersebut disampaikan kepada
parlemen tanggal 22 Januari 1951
dan memperoleh kemenangan,
sehingga pada tanggal 21 Maret
1951 Natsir harus mengembalikan
mandatnya kepada Presiden.
Kabinet Sukiman (27 April
1951 – 3 April 1952)
Setelah Kabinet Natsir mengembalikan mandatnya pada
presiden, presiden menunjuk Sartono (Ketua PNI) menjadi
formatur, namun gagal, sehingga ia mengembalikan
mandatnya kepada presiden setelah bertugas selama 28
hari (28 Maret-18 April 1951). Presiden Soekarno kemudian
menunjukan Sidik Djojosukatro dari PNI dan Soekiman
Wijosandjojo dari Masyumi sebagai formatur dan berhasil
membentuk kabinet koalisi Masyumi-PNI. Kabinet ini
terkenal dengan nama Kabinet Soekiman-Soewirjo.
Program pokok dari Kabinet Soekiman11
1. Menjamin keamanan dan
ketentraman
2. Mengusahakan kemakmuran
rakyat dan memperbaharui
hukum agraria agar sesuai dengan
kepentingan petani.
3. Mempercepat persiapan pemilihan
umum.
Kabinet Sukiman sendiri memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan militer dan kurang prograsif menghadapi
pemberontakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan. Parlemen pada akhirnya menjatuhkan mosi tidak percaya kepada
Kabinet Sukiman. Sukiman kemudian harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden Soekarno.
4. Menjalankan politik luar negeri
secara bebas aktif serta
memasukkan Irian Barat ke dalam
wilayah RI secepatnya.
5. Menyiapkan undang – undang
tentang pengakuan serikat buruh,
perjanjian kerja sama, penetapan
upah minimum, dan penyelesaian
pertikaian buruh.
1
1
Kabinet Wilopo
(3 April 1952 – 3
Juni 1953)
Pada tanggal 1 Maret 1952, Presiden
Soekarno Wilopo dari PNI sebagai formatur.
Setelah bekerja selama dua minggu berhasil
dibentuk kabinet baru di bawah pimpinan
Perdana Mentari Wilopo, sehingga bernama
Kabinet Wilopo. Kabinet ini mendapat
dukungan dari PNI, Masyumi, dan PSI.
Program pokok dari Kabinet
Wilopo
1
3
Program dalam negeri:
1. Menyelenggarakan pemilihan
umum untuk memilih Dewan
2. Konstituante, DPR, dan DPRD
3. Meningkatkan kemakmuran rakyat,
4. Meningkatkan pendidikan rakyat,
dan
5. Pemulihan stabilitas keamanan
negara
Program luar negeri:
1. Penyelesaian masalah
hubungan Indonesia-
Belanda,
2. Pengembalian Irian Barat ke
pangkuan Indonesia, serta
3. Menjalankan politik luar
negeri yang bebas-aktif.
Munculnya Peristiwa Tanjung Morawa mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera
Timur (Deli), Peristiwa Tanjung Morawa merupakan peristiwa bentrokan antara aparat kepolisian
dengan para petani liar yang di dukung PKI mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera
Timur (Deli). Akibat peristiwa Tanjung Morawa muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani
Indonesia terhadap kabinet Wilopo. Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada
presiden pada tanggal 2 Juni 1953.
Kabinet Ali
Sastroamijoyo I (31
Juli 1953 – 12
Agustus 1955)
Kabinet Ali Sastroamidjojo yang terbentuk pada 31
Juli 1953 merupakan kabinet ke-empat yang dibentuk
selama Masa Demokrasi Liberal. Kabinet ini
mendapatkan dukungan banyak partai di Parlemen,
termasuk Partai Nahdlatul Ulama (NU). Kabinet ini
diketuai oleh PM. Ali Sastroamijoyo dan Wakil PM. Mr.
Wongsonegoro dari Partai Indonesia Raya (PIR).
Program pokok dari Kabinet Ali
Sastroamijoyo I:
1. Meningkatkan keamanan dan
kemakmuran
2. Menyelenggarakan Pemilu dengan
segera
3. Pembebasan Irian Barat secepatnya
4. Pelaksanaan politik bebas-aktif
5. Peninjauan kembali persetujuan KMB.
6. Penyelesaian pertikaian politik.
Prestasi :
Dalam menjalankan fungsinya, kabinet
ini berhasil melakukan suatu prestasi
yaitu:
• Merampungkan persiapan pemilu
yang akan diselenggarakan 29
September 1955
• Menyelenggarakan Konferensi Asia-
Afrika (KAA) pada tahun 1955
1
5
1
6
Penurunan Kabinet Ali
Konflik PNI dan NU memperburuk koalisi partai pendukung Kabinet Ali yang
mengakibatkan NU menarik menteri-menterinya pada tanggal 20 Juli 1955 yang diikuti
oleh partai lainnya. Keretakan partai pendukung mendorong Kabinet Ali Sastro I harus
mengembalikan mandatnya pada presiden pada tanggal 24 Juli 1955.
1
7
Kabinet
Burhanuddin
Harahap (12
Agustus 1955 – 3
Maret 1956)
Kabinet Ali selanjutnya digantikan
oleh Kabinet Burhanuddin Harahap.
Burhanuddin Harahap berasal dari
Masyumi., sedangkan PNI
membentuk oposisi.
1
8
Progam pokok
1. Mengembalikan kewibawaan
pemerintah, yaitu mengembalikan
kepercayaan Angkatan Darat dan
masyarakat kepada pemerintah.
2. Melaksanakan pemilihan umum
menurut rencana yang sudah
ditetapkan dan mempercepat
terbentuknya parlemen baru
3. Masalah desentralisasi, inflasi,
pemberantasan korupsi
4. Perjuangan pengembalian Irian
Barat
5. Politik Kerjasama Asia-Afrika
berdasarkan politik luar negeri
bebas aktif.
Keberhasilan
1. Keberhasilan menyelenggarakan
Pemilu pada 29 September 1955
untuk memilih anggota DPR dan 15
Desember untuk memilih Dewan
Konstituante.
2. Membubarkan Uni Indonesia-
Belanda
3. Menjalin hubungan yang
harmonis dengan Angkatan Darat
4. Bersama dengan Polisi Militer
melakukan penangkapan para
pejabat tinggi yang terlibat korupsi
Kemunduran
Kabinet ini mengalami gangguan
ketika kebijakan yang diambil
berdampak pada banyaknya
mutasi dalam lingkungan
pemerintahan yang dianggap
menimbulkan ketidaktenangan.
Kabinet ini sendiri
mengembalikan mandatnya
kepada Presiden Soekarno ketika
anggota Parlemen yang baru
kurang memberikan dukungan
kepada kabinet.
Kabinet Ali Sastramojoyo II
(20 Maret 1956 – 4 Maret
1957)
Pada tanggal 20 Maret 1956, didukung oleh tiga
partai besar di Parlemen: PNI, NU, dan Masyumi.
Ali Sastroamijoyo mendapatkan mandat untuk
kedua kalinya membentuk kabinet.
+
2
0
Program pokok dari Kabinet Ali
Sastroamijoyo II adalah Program kabinet ini
disebut Rencana Pembangunan Lima
Tahun yang memuat program jangka
panjang, sebagai berikut:
1.Perjuangan pengembalian Irian Barat
2. Pembentukan daerah-daerah otonomi dan
mempercepat terbentuknya anggota-
anggota DPRD.
3. Mengusahakan perbaikan nasib kaum
buruh dan pegawai.
4. Menyehatkan perimbangan keuangan
negara.
5. Mewujudkan perubahan ekonomi kolonial
menjadi ekonomi nasional berdasarkan
kepentingan rakyat.
6. Pembatalan KMB
7. Pemulihan keamanan dan ketertiban,
pembangunan lima tahun, menjalankan
politik luar negeri bebas aktif
8. Melaksanakan keputusan KAA.
Lambatnya pertumbuhan ekonomi dan
pembangunan mengakibatkan krisis kepercayaan
daerah luar Jawa dan menganggap pemerintah
pilih kasih dalam melakukan pembangunan.
Pembatalan KMB menimbulkan masalah baru
khususnya mengenai nasib modal pengusaha
Belanda di Indonesia. Timbulnya perpecahan
antara Masyumi dan PNI mengakibatkan
mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi
membuat kabinet hasil Pemilu ini jatuh dan
menyerahkan mandatnya pada presiden.
2
1
Kabinet Djuanda (9 April 1957- 5 Juli
1959)
Kabinet baru kemudian dipimpin oleh Ir. Djuanda
yang kemudian membentuk kabinet yang terdiri dari
para menteri yang ahli dalam bidangnya. Kabinet ini
dikenal dengan istilah Zaket Kabinet karena harus berisi
unsur ahli dan golongan intelektual dan tidak adanya
unsur partai politik di dalamnya.
Program pokok dari Kabinet
Djuanda dikenal sebagai Panca Karya yaitu:
1. Membentuk Dewan Nasional
2. Normalisasi keadaan RI
3. Melancarkan pelaksanaan Pembatalan KMB
4. Perjuangan pengembalian Irian Jaya
5. Mempergiat/mempercepat proses
Pembangunan
Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah negara
Republik Indonesia mengacu pada
Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu
Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen
Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam
peraturan zaman Hindia Belanda ini, pulau-
pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh
laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya
mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil
dari garis pantai. Ini berarti kapal asing
boleh dengan bebas melayari laut yang
memisahkan pulau-pulau tersebut.
2
3
Akhir Masa Demokrasi Liberal di
Indonesia.
Kekacauan politik yang timbul karena pertikaian partai politik di Parlemen menyebabkan sering jatuh bangunnya
kabinet sehinggi menghambat pembangunan. Hal ini diperparah dengan Dewan Konstituante yang mengalami
kebuntuan dalam menyusun konstitusi baru, sehingga Negara Indinesia tidak memiliki pijakan hukum yang mantap.
Kegagalan konstituante disebabkan karena masing-masing partai hanya mengejar kepentingan partainya saja tanpa
mengutamakan kepentingan negara dan Bangsa Indonesia secara keseluruhan.
Kegagalan konstituante disebabkan karena masing-masing partai hanya mengejar kepentingan partainya saja tanpa
mengutamakan kepentingan negara dan Bangsa Indonesia secara keseluruhan. Masalah utama yang dihadapi
konstituante adalah tentang penetapan dasar negara. Terjadi tarik-ulur di antara golongan-golongan dalam
konstituante. Sekelompok partai menghendaki agar Pancasila menjadi dasar negara, namun sekelompok partai
lainnya menghendaki agama Islam sebagai dasar negara.
Dalam situasi dan kondisi seperti itu, beberapa partai politik mengajukan usul kepada Presiden Soekarno agar
mengambil kebijakan untuk mengatasi kemelut politik. Oleh karena itu pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno
mengeluarkan dekrit yang berisi sebagai berikut;
1. Pembubaran Konstituante.
2. Berlakunya kembali UUD 1945.
3. Tidak berlakunya UUDS 1950.
4. Pembentukan MPRS dan DPAS.
Setelah keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan tidak diberlakukannya lagi UUDS 1950, maka secara otomatis
sistem pemerintahan Demokrasi Liberal tidak berlaku lagi di Indonesia dan mulainya sistem Presidensil dengan
Demokrasi Terpimpin ala Soekarno.
THANK YOU FOR WATCHING!
ANY QUESTIONS?

More Related Content

PPTX
7 KABINET INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL (.pptx
PPTX
PPT SEJARAH INDONESIA - Perkembangan Politik Masa Demokrasi Liberal
PDF
Dem liberal min
PPTX
Sistem Demokrasi Parlementer
DOCX
7 kabinet indonesia_pada_masa_demokrasi_liberal
PPTX
SEJARAH-INDONESIA-PADA-MASA-DEMOKRASI-LIBERAL-DAN-DEMOKRASI-TERPIMPIN.pptx
PPTX
pEMILU 1955_JAWA TENGAH dan Politik Islam (Tinjauan Sejarah).pptx
PPTX
Demokrasi Liberal
7 KABINET INDONESIA PADA MASA DEMOKRASI LIBERAL (.pptx
PPT SEJARAH INDONESIA - Perkembangan Politik Masa Demokrasi Liberal
Dem liberal min
Sistem Demokrasi Parlementer
7 kabinet indonesia_pada_masa_demokrasi_liberal
SEJARAH-INDONESIA-PADA-MASA-DEMOKRASI-LIBERAL-DAN-DEMOKRASI-TERPIMPIN.pptx
pEMILU 1955_JAWA TENGAH dan Politik Islam (Tinjauan Sejarah).pptx
Demokrasi Liberal

Similar to MASA DEMOKRASI sejarah indonesiaLIBERAL.pptx (20)

PPTX
Demokrasi Liberal di Indonesia
PPTX
Mater ips bab 4 ekpol pasca nkri
PPTX
DEMOKRASI_LIBERAL_SEJARAH_SMA_KELAS_XII.pptx
PDF
1. indonesia pada masa demokrasi liberal
PPTX
Demokrasi Liberal
PPTX
Ppt sistem pemerintahan pada masa demokrasi parlementer 1950 1959
PPTX
PPT sistem dan struktur politik ekonomi Indonesia masa demokrasi liberal 1 (1...
PDF
sejarah wajib - kelompok 4 demokrasi liberal.pdf
PPT
DEMOKRASI LIBERAL untuk kelas XII kurikulum merdeka.ppt
PPTX
Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin
PPTX
DEMOKRASI LIBERAL KELOMPOK.pptx
DOCX
MODUL SEJARAH INDONESIA KELAS XII IPA.docx
PPTX
Kehidupan_Politik_dan_Ekonomi_Masyarakat.pptx
PPTX
Demokrasi_Liberal_mempertahankan kemerdekaan Indonesia
PPTX
MASA SEJARAH DEMOKRASI TERPIMPIN DI INDONESIA
PPTX
Kehidupan Politik dan Ekonomi Indonesia.pptx
PDF
DEMOKRASI LIBERAL_20240227_084922_0000.pdf
PPTX
Powerpoint Pembelajaran Demokrasi Liberal.pptx
PPTX
demokrasi_terpimpin_sejarah Indonesia_XII.pptx
PPT
Demokrasi liberal
Demokrasi Liberal di Indonesia
Mater ips bab 4 ekpol pasca nkri
DEMOKRASI_LIBERAL_SEJARAH_SMA_KELAS_XII.pptx
1. indonesia pada masa demokrasi liberal
Demokrasi Liberal
Ppt sistem pemerintahan pada masa demokrasi parlementer 1950 1959
PPT sistem dan struktur politik ekonomi Indonesia masa demokrasi liberal 1 (1...
sejarah wajib - kelompok 4 demokrasi liberal.pdf
DEMOKRASI LIBERAL untuk kelas XII kurikulum merdeka.ppt
Demokrasi Liberal dan Demokrasi Terpimpin
DEMOKRASI LIBERAL KELOMPOK.pptx
MODUL SEJARAH INDONESIA KELAS XII IPA.docx
Kehidupan_Politik_dan_Ekonomi_Masyarakat.pptx
Demokrasi_Liberal_mempertahankan kemerdekaan Indonesia
MASA SEJARAH DEMOKRASI TERPIMPIN DI INDONESIA
Kehidupan Politik dan Ekonomi Indonesia.pptx
DEMOKRASI LIBERAL_20240227_084922_0000.pdf
Powerpoint Pembelajaran Demokrasi Liberal.pptx
demokrasi_terpimpin_sejarah Indonesia_XII.pptx
Demokrasi liberal
Ad

More from sufamtsacp (20)

PPTX
Konflikgyfytkkj dan Integrasi Sosial.pptx
PPTX
Mobilitjgyttrtrytduijuhgyftyguas Sosial.pptx
PPTX
materi baru geografi indonesia Poros-Maritim.pptx
PPT
interaksi antarruangdalam geografi ips .ppt
PPTX
AstFEFEFEFEronEFomical Optics (Mentari).pptx
PPTX
(Astronomy #8) Paralaks Trigonometri, Jarak dan, Separasi Sudut by Dhani Eka ...
PPTX
IPS VIII Bab 31 Penjelajahan Samudra, Kolonialisme, dan Imperialisme di Indon...
PPTX
IPS VIII Bab 32 Pergerakan Kebangsaan Menuju Kemerdekaan - modulguruku.com.pptx
PPTX
negara- negara di ASEAN dan interaksinya .pptx
PPTX
KONFLIK DAN INTEGRASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL.pptx
PPTX
xvddfdsfgdsgdvfvdxvfdvsdvgvdsgPedosfer.pptx
PPTX
001. USAHA PENGEMBANGAN MADRASAH ok.pptx
PPT
KIPRAH PASUNDAN ISTRI DI BANDUNG PADA TAHUN 1930-1970.ppt
PPTX
materi geografi sma tentang Penduduk II.pptx
PPTX
sosilogi bab 5 materi tentang KEBUDAYAAN.pptx
PPT
370214464-336745772-aktivitas-manusia-dalam-memenuhi-kebutuhan-ppt-2210121438...
PPTX
By Asep Pujasari Nugraha materi pluralitas.pptx.pptx
PPTX
04. SUPERVISI KEPADA GURU DAN TENDIK ok.pptx
PDF
Asal Usul Penduduk_240601_175755 (1).pdf
PPTX
materi USAHA PENGEMBANGAN MADRASAH ok.pptx
Konflikgyfytkkj dan Integrasi Sosial.pptx
Mobilitjgyttrtrytduijuhgyftyguas Sosial.pptx
materi baru geografi indonesia Poros-Maritim.pptx
interaksi antarruangdalam geografi ips .ppt
AstFEFEFEFEronEFomical Optics (Mentari).pptx
(Astronomy #8) Paralaks Trigonometri, Jarak dan, Separasi Sudut by Dhani Eka ...
IPS VIII Bab 31 Penjelajahan Samudra, Kolonialisme, dan Imperialisme di Indon...
IPS VIII Bab 32 Pergerakan Kebangsaan Menuju Kemerdekaan - modulguruku.com.pptx
negara- negara di ASEAN dan interaksinya .pptx
KONFLIK DAN INTEGRASI DALAM KEHIDUPAN SOSIAL.pptx
xvddfdsfgdsgdvfvdxvfdvsdvgvdsgPedosfer.pptx
001. USAHA PENGEMBANGAN MADRASAH ok.pptx
KIPRAH PASUNDAN ISTRI DI BANDUNG PADA TAHUN 1930-1970.ppt
materi geografi sma tentang Penduduk II.pptx
sosilogi bab 5 materi tentang KEBUDAYAAN.pptx
370214464-336745772-aktivitas-manusia-dalam-memenuhi-kebutuhan-ppt-2210121438...
By Asep Pujasari Nugraha materi pluralitas.pptx.pptx
04. SUPERVISI KEPADA GURU DAN TENDIK ok.pptx
Asal Usul Penduduk_240601_175755 (1).pdf
materi USAHA PENGEMBANGAN MADRASAH ok.pptx
Ad

Recently uploaded (20)

PDF
Modul Ajar Deep Learning Seni Rupa Kelas 6 Kurikulum Merdeka
PPTX
Kokurikuler dalam Pembelajaran Mendalam atau Deep Leaning
PPTX
Pembelajaran Mendalam sekolah kepala sekolah
PPTX
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika.pptx
DOCX
Modul Ajar Deep Learning PKWU Kerajinan Kelas 11 SMA Terbaru 2025
PPTX
Pengimbasan koding dan keerdasan Artifisial.pptx
PDF
PPT OJT 1. KODING DAN KECERDASAN ARTIFISIAL INTELEGENSI
PDF
Analisis dan Evaluasi Kemasan Produk Teknik dan Faktor Penilaian
PDF
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika.pdf
PDF
PPT Evaluasi Keseluruhan Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
PDF
Aminullah Assagaf_Ch3&4_Statistik Ekonometrika_PLS SPSS.pdf
PDF
Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Kelas 1 Kurikulum Merdeka
PPTX
Berpikir_Komputasional_Kelas5_IlustrasiKosong.pptx
PPTX
Ikrar Pamong dan Panca Prasetya KORPRI dan JUga Ikrar Bela Negara
PPTX
POWER POING IPS KLS 8 KUMER 2025-2026.pptx
PDF
Laktasi dan Menyusui (MK Askeb Esensial Nifas, Neonatus, Bayi, Balita dan Ana...
PPTX
Kokurikuler_Berbasis_Proyek_Lintas_Disiplin_ilmu.pptx
PDF
PPT Materi Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
PPTX
Digital Marketing Dasar Untuk Pemula.pptx
PPTX
893548301-Panduan-Kokurikuler-Tahun_2025.pptx
Modul Ajar Deep Learning Seni Rupa Kelas 6 Kurikulum Merdeka
Kokurikuler dalam Pembelajaran Mendalam atau Deep Leaning
Pembelajaran Mendalam sekolah kepala sekolah
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika.pptx
Modul Ajar Deep Learning PKWU Kerajinan Kelas 11 SMA Terbaru 2025
Pengimbasan koding dan keerdasan Artifisial.pptx
PPT OJT 1. KODING DAN KECERDASAN ARTIFISIAL INTELEGENSI
Analisis dan Evaluasi Kemasan Produk Teknik dan Faktor Penilaian
Aminullah Assagaf_B34_Statistik Ekonometrika.pdf
PPT Evaluasi Keseluruhan Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
Aminullah Assagaf_Ch3&4_Statistik Ekonometrika_PLS SPSS.pdf
Modul Ajar Deep Learning Bahasa Indonesia Kelas 1 Kurikulum Merdeka
Berpikir_Komputasional_Kelas5_IlustrasiKosong.pptx
Ikrar Pamong dan Panca Prasetya KORPRI dan JUga Ikrar Bela Negara
POWER POING IPS KLS 8 KUMER 2025-2026.pptx
Laktasi dan Menyusui (MK Askeb Esensial Nifas, Neonatus, Bayi, Balita dan Ana...
Kokurikuler_Berbasis_Proyek_Lintas_Disiplin_ilmu.pptx
PPT Materi Kelas Mempraktikkan Prinsip Hermeneutika (MPH) 2025
Digital Marketing Dasar Untuk Pemula.pptx
893548301-Panduan-Kokurikuler-Tahun_2025.pptx

MASA DEMOKRASI sejarah indonesiaLIBERAL.pptx

  • 2. 2 Nama Anggota Kelompok 1Alenna Layla R (02/IXF) 2Audrey Zhafira S (07/IXF) 3Salsabila Khoirun N (28/IXF)
  • 3. 3 Secara umum, demokrasi liberal adalah salah satu bentuk sistem pemerintahan yang berkiblat pada demokrasi. Demokrasi liberal berarti demokrasi yang liberal. Liberal disini dalam artian perwakilan atau representatif. Setelah dibubarkannya RIS, sejak tahun 1950 RI melaksanakan demokrasi parlementer-liberal dengan mencontoh sistem parlementer barat dan masa ini disebut Masa Demokrasi Liberal. Indonesia sendiri pada tahun 1950an terbagi menjadi 10 Provinsi yang mempunyai otonomi berdasarkan Undang-Undang Dasar Sementara 1950 (UUDS 1950) yang juga bernafaskan liberal. Demokrasi Liberal
  • 4. 4 Pelaksanaan Pemerintahan Tahun 1950-1959 merupakan masa memanasnya partai-partai politik pada pemerintahan Indonesia. Pada masa ini terjadi pergantian kabinet, partai-partai politik terkuat mengambil alih kekuasaan. PNI dan Masyumi merupakan partai yang terkuat dalam DPR (Parlemen). Dalam waktu lima tahun (1950 -1955) PNI dan Masyumi secara bergantian memegang hegemoni poltik dalam empat kabinet yang pernah berlaku. Adapun susunan kabinetnya sebagai berikut;
  • 5. 5 Kabinet Natsir (6 September 1950 - 21 Maret 1951) Kabiet ini dilantik pada tanggal 7 September 1950 dengan Mohammad Natsir dari Partai Masyumi sebagai perdana menteri. Kabinet Natsir merupakan koalisi yang dipimpin oleh partai Masyumi bersama dengan PNI. Kabinet ini memiliki struktur yang terdiri dari tokoh – tokoh terkenal duduk di dalamnya, seperti Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Mr.Asaat, Ir.Djuanda, dan Prof Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo.
  • 6. 6 Program pokok dari Kabinet Natsir 1 Menggiatkan usaha keamanan dan ketentraman 2 Mencapai konsolidasi dan menyempurnakan susunan pemerintahan. 3 Menyempurnakan organisasi Angkatan Perang. 4 Mengembangkan dan memperkuat ekonomi rakyat. 5 Memperjuangkan penyelesaian masalah Irian Barat.
  • 7. 7 Bidang ekonomi Dalam bidang ekonomi kabinet ini memperkenalkan sistem ekonomi Gerakan Benteng yang direncanakan oleh Menteri Ekonomi, Sumitro Djojohadikusumo. Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional (pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya adalah: 1. Menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia. 2. Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional. 3. Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan kredit. 4. Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.
  • 8. 8 Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir dan Program Gerakan Benteng dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3 tahun (1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan bangsa Indonesia menerima bantuan kredit dari program ini. Tujuan program ini sendiri tidak dapat tercapai dengan baik meskipun anggaran yang digelontorkan pemerintah cukup besar. Kegagalan program ini disebabkan karena : 1. Para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi dalam kerangka sistem ekonomi liberal. 2. Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas yang cenderung konsumtif. 3. Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada pemerintah. 4. Para pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya. 5. Para pengusaha ingin cepat mendapatkan keuntungan besar dan menikmati cara hidup mewah. 6. Para pengusaha menyalahgunakan kebijakan dengan mencari keuntungan secara cepat dari kredit yang mereka peroleh. Kabinet Natsir sendiri kemudian berakhir disebabkan oleh adanya mosi tidak percaya dari PNI di Parlemen Indonesia menyangkut pencabutan Peraturan Pemerintah mengenai DPRD dan DPRDS. PNI menganggap peraturan pemerintah No. 39 th 1950 mengenai DPRD terlalu menguntungkan Masyumi. Mosi tersebut disampaikan kepada parlemen tanggal 22 Januari 1951 dan memperoleh kemenangan, sehingga pada tanggal 21 Maret 1951 Natsir harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden.
  • 9. Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 3 April 1952) Setelah Kabinet Natsir mengembalikan mandatnya pada presiden, presiden menunjuk Sartono (Ketua PNI) menjadi formatur, namun gagal, sehingga ia mengembalikan mandatnya kepada presiden setelah bertugas selama 28 hari (28 Maret-18 April 1951). Presiden Soekarno kemudian menunjukan Sidik Djojosukatro dari PNI dan Soekiman Wijosandjojo dari Masyumi sebagai formatur dan berhasil membentuk kabinet koalisi Masyumi-PNI. Kabinet ini terkenal dengan nama Kabinet Soekiman-Soewirjo.
  • 10. Program pokok dari Kabinet Soekiman11 1. Menjamin keamanan dan ketentraman 2. Mengusahakan kemakmuran rakyat dan memperbaharui hukum agraria agar sesuai dengan kepentingan petani. 3. Mempercepat persiapan pemilihan umum. Kabinet Sukiman sendiri memiliki hubungan yang kurang harmonis dengan militer dan kurang prograsif menghadapi pemberontakan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan. Parlemen pada akhirnya menjatuhkan mosi tidak percaya kepada Kabinet Sukiman. Sukiman kemudian harus mengembalikan mandatnya kepada Presiden Soekarno. 4. Menjalankan politik luar negeri secara bebas aktif serta memasukkan Irian Barat ke dalam wilayah RI secepatnya. 5. Menyiapkan undang – undang tentang pengakuan serikat buruh, perjanjian kerja sama, penetapan upah minimum, dan penyelesaian pertikaian buruh.
  • 11. 1 1 Kabinet Wilopo (3 April 1952 – 3 Juni 1953) Pada tanggal 1 Maret 1952, Presiden Soekarno Wilopo dari PNI sebagai formatur. Setelah bekerja selama dua minggu berhasil dibentuk kabinet baru di bawah pimpinan Perdana Mentari Wilopo, sehingga bernama Kabinet Wilopo. Kabinet ini mendapat dukungan dari PNI, Masyumi, dan PSI.
  • 12. Program pokok dari Kabinet Wilopo 1 3 Program dalam negeri: 1. Menyelenggarakan pemilihan umum untuk memilih Dewan 2. Konstituante, DPR, dan DPRD 3. Meningkatkan kemakmuran rakyat, 4. Meningkatkan pendidikan rakyat, dan 5. Pemulihan stabilitas keamanan negara Program luar negeri: 1. Penyelesaian masalah hubungan Indonesia- Belanda, 2. Pengembalian Irian Barat ke pangkuan Indonesia, serta 3. Menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif.
  • 13. Munculnya Peristiwa Tanjung Morawa mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli), Peristiwa Tanjung Morawa merupakan peristiwa bentrokan antara aparat kepolisian dengan para petani liar yang di dukung PKI mengenai persoalan tanah perkebunan di Sumatera Timur (Deli). Akibat peristiwa Tanjung Morawa muncullah mosi tidak percaya dari Serikat Tani Indonesia terhadap kabinet Wilopo. Sehingga Wilopo harus mengembalikan mandatnya pada presiden pada tanggal 2 Juni 1953.
  • 14. Kabinet Ali Sastroamijoyo I (31 Juli 1953 – 12 Agustus 1955) Kabinet Ali Sastroamidjojo yang terbentuk pada 31 Juli 1953 merupakan kabinet ke-empat yang dibentuk selama Masa Demokrasi Liberal. Kabinet ini mendapatkan dukungan banyak partai di Parlemen, termasuk Partai Nahdlatul Ulama (NU). Kabinet ini diketuai oleh PM. Ali Sastroamijoyo dan Wakil PM. Mr. Wongsonegoro dari Partai Indonesia Raya (PIR).
  • 15. Program pokok dari Kabinet Ali Sastroamijoyo I: 1. Meningkatkan keamanan dan kemakmuran 2. Menyelenggarakan Pemilu dengan segera 3. Pembebasan Irian Barat secepatnya 4. Pelaksanaan politik bebas-aktif 5. Peninjauan kembali persetujuan KMB. 6. Penyelesaian pertikaian politik. Prestasi : Dalam menjalankan fungsinya, kabinet ini berhasil melakukan suatu prestasi yaitu: • Merampungkan persiapan pemilu yang akan diselenggarakan 29 September 1955 • Menyelenggarakan Konferensi Asia- Afrika (KAA) pada tahun 1955 1 5
  • 16. 1 6 Penurunan Kabinet Ali Konflik PNI dan NU memperburuk koalisi partai pendukung Kabinet Ali yang mengakibatkan NU menarik menteri-menterinya pada tanggal 20 Juli 1955 yang diikuti oleh partai lainnya. Keretakan partai pendukung mendorong Kabinet Ali Sastro I harus mengembalikan mandatnya pada presiden pada tanggal 24 Juli 1955.
  • 17. 1 7 Kabinet Burhanuddin Harahap (12 Agustus 1955 – 3 Maret 1956) Kabinet Ali selanjutnya digantikan oleh Kabinet Burhanuddin Harahap. Burhanuddin Harahap berasal dari Masyumi., sedangkan PNI membentuk oposisi.
  • 18. 1 8 Progam pokok 1. Mengembalikan kewibawaan pemerintah, yaitu mengembalikan kepercayaan Angkatan Darat dan masyarakat kepada pemerintah. 2. Melaksanakan pemilihan umum menurut rencana yang sudah ditetapkan dan mempercepat terbentuknya parlemen baru 3. Masalah desentralisasi, inflasi, pemberantasan korupsi 4. Perjuangan pengembalian Irian Barat 5. Politik Kerjasama Asia-Afrika berdasarkan politik luar negeri bebas aktif. Keberhasilan 1. Keberhasilan menyelenggarakan Pemilu pada 29 September 1955 untuk memilih anggota DPR dan 15 Desember untuk memilih Dewan Konstituante. 2. Membubarkan Uni Indonesia- Belanda 3. Menjalin hubungan yang harmonis dengan Angkatan Darat 4. Bersama dengan Polisi Militer melakukan penangkapan para pejabat tinggi yang terlibat korupsi Kemunduran Kabinet ini mengalami gangguan ketika kebijakan yang diambil berdampak pada banyaknya mutasi dalam lingkungan pemerintahan yang dianggap menimbulkan ketidaktenangan. Kabinet ini sendiri mengembalikan mandatnya kepada Presiden Soekarno ketika anggota Parlemen yang baru kurang memberikan dukungan kepada kabinet.
  • 19. Kabinet Ali Sastramojoyo II (20 Maret 1956 – 4 Maret 1957) Pada tanggal 20 Maret 1956, didukung oleh tiga partai besar di Parlemen: PNI, NU, dan Masyumi. Ali Sastroamijoyo mendapatkan mandat untuk kedua kalinya membentuk kabinet. +
  • 20. 2 0 Program pokok dari Kabinet Ali Sastroamijoyo II adalah Program kabinet ini disebut Rencana Pembangunan Lima Tahun yang memuat program jangka panjang, sebagai berikut: 1.Perjuangan pengembalian Irian Barat 2. Pembentukan daerah-daerah otonomi dan mempercepat terbentuknya anggota- anggota DPRD. 3. Mengusahakan perbaikan nasib kaum buruh dan pegawai. 4. Menyehatkan perimbangan keuangan negara. 5. Mewujudkan perubahan ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional berdasarkan kepentingan rakyat. 6. Pembatalan KMB 7. Pemulihan keamanan dan ketertiban, pembangunan lima tahun, menjalankan politik luar negeri bebas aktif 8. Melaksanakan keputusan KAA. Lambatnya pertumbuhan ekonomi dan pembangunan mengakibatkan krisis kepercayaan daerah luar Jawa dan menganggap pemerintah pilih kasih dalam melakukan pembangunan. Pembatalan KMB menimbulkan masalah baru khususnya mengenai nasib modal pengusaha Belanda di Indonesia. Timbulnya perpecahan antara Masyumi dan PNI mengakibatkan mundurnya sejumlah menteri dari Masyumi membuat kabinet hasil Pemilu ini jatuh dan menyerahkan mandatnya pada presiden.
  • 21. 2 1 Kabinet Djuanda (9 April 1957- 5 Juli 1959) Kabinet baru kemudian dipimpin oleh Ir. Djuanda yang kemudian membentuk kabinet yang terdiri dari para menteri yang ahli dalam bidangnya. Kabinet ini dikenal dengan istilah Zaket Kabinet karena harus berisi unsur ahli dan golongan intelektual dan tidak adanya unsur partai politik di dalamnya. Program pokok dari Kabinet Djuanda dikenal sebagai Panca Karya yaitu: 1. Membentuk Dewan Nasional 2. Normalisasi keadaan RI 3. Melancarkan pelaksanaan Pembatalan KMB 4. Perjuangan pengembalian Irian Jaya 5. Mempergiat/mempercepat proses Pembangunan
  • 22. Sebelum deklarasi Djuanda, wilayah negara Republik Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, yaitu Teritoriale Zeeën en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 (TZMKO 1939). Dalam peraturan zaman Hindia Belanda ini, pulau- pulau di wilayah Nusantara dipisahkan oleh laut di sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Ini berarti kapal asing boleh dengan bebas melayari laut yang memisahkan pulau-pulau tersebut.
  • 23. 2 3 Akhir Masa Demokrasi Liberal di Indonesia. Kekacauan politik yang timbul karena pertikaian partai politik di Parlemen menyebabkan sering jatuh bangunnya kabinet sehinggi menghambat pembangunan. Hal ini diperparah dengan Dewan Konstituante yang mengalami kebuntuan dalam menyusun konstitusi baru, sehingga Negara Indinesia tidak memiliki pijakan hukum yang mantap. Kegagalan konstituante disebabkan karena masing-masing partai hanya mengejar kepentingan partainya saja tanpa mengutamakan kepentingan negara dan Bangsa Indonesia secara keseluruhan. Kegagalan konstituante disebabkan karena masing-masing partai hanya mengejar kepentingan partainya saja tanpa mengutamakan kepentingan negara dan Bangsa Indonesia secara keseluruhan. Masalah utama yang dihadapi konstituante adalah tentang penetapan dasar negara. Terjadi tarik-ulur di antara golongan-golongan dalam konstituante. Sekelompok partai menghendaki agar Pancasila menjadi dasar negara, namun sekelompok partai lainnya menghendaki agama Islam sebagai dasar negara. Dalam situasi dan kondisi seperti itu, beberapa partai politik mengajukan usul kepada Presiden Soekarno agar mengambil kebijakan untuk mengatasi kemelut politik. Oleh karena itu pada tanggal 5 Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang berisi sebagai berikut; 1. Pembubaran Konstituante. 2. Berlakunya kembali UUD 1945. 3. Tidak berlakunya UUDS 1950. 4. Pembentukan MPRS dan DPAS. Setelah keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 dan tidak diberlakukannya lagi UUDS 1950, maka secara otomatis sistem pemerintahan Demokrasi Liberal tidak berlaku lagi di Indonesia dan mulainya sistem Presidensil dengan Demokrasi Terpimpin ala Soekarno.
  • 24. THANK YOU FOR WATCHING! ANY QUESTIONS?